Pagi yang tak ingin aku khianati


Sabtu pagi adalah pagi yang tak sekalipun ingin aku khianati. Walau sering kali selimut merayu manja melanjutkan mimpi. Lebih lagi ketika dingin, sunyi, dan alunan radio tetangga mengiringi. Ingin sekali lagi, satu putaran lagi, lelap pejam mata ini.
Tapi sabtu pagi adalah hari yang menjadi diri sendiri. Melepas sejenak identitas jam kerja yang melekat sepanjang hari. Meremas setiap perintah turun untuk menikmati pagi. Sabtu pagi untukmu aku acuh pada setumpuk tugas biar tercecer sampai senin pagi. Peduli? Tidak sama sekali.
Maka ijinkan aku menikmati setiap sabtu pagi dengan segelas kopi. Menyaksikan hamparan awan melepas warna mentari. Menjadi juri pada setiap lalu lalang kesibukan sesamaku yang belum diakhiri. Ah nikmat sekali, lebih lagi terselip sebatang kretek menyela seruput kopi.
Kau tahu Wanti, jika setiap sabtu pagi aku selalu memikirkanmu lagi dan lagi. Memikirkan bagaimana segelas kopi akan tersaji olehmu Wanti. Memikirkan surat kabar yang tiba dan aku baca di beranda bersamamu Wanti. Memikirkan berjalan pelan lalu berlari menjaga jantung bersamamu Wanti. Kau tahu Wanti, sabtu pagi adalah pagi yang tak sekalipun ingin aku khianati.
Bandungan 7 Oktober 2017
Mudjirapontur

Instagram Feed Instagram Feed Instagram Feed Instagram Feed Instagram Feed Instagram Feed

Sapa Maya

More Stories
Sebuah Usaha Menulis Cerita SMA bagian 4 – Bangku Belakang