Aku dan 10.000 cup kopi di Malioboro Coffe Night


Sepulang kerja kemarin, aku dan sahabatku Mas An namanya, menemukan kata sepakat untuk melancarkan sebuah keinginan bersama, datang sebagai bagian dari kerumunan pecinta dan penikmat kopi di Indoneaia. Bisa aku katakan Senin malam kemarin itu, aku membaur bersama ribuan orang yang memadati kawasan Malioboro, khususnya di depan Malioboro Mal Yogyakarta.
Satu-satunya yang menjadi kendala ketika ada acara besar yang diselenggarakan di kawasan Malioboro adalah tempat parkir. Sebagian orang rela parkir di Taman Parkir Abu Bakar Ali, yang letaknya cukup jauh dari titik acara. Di sini aku merasa beruntung sebab menjalin pertemanan yang cukup beragam selama ini. Aku dan Mas An yang membonceng segera menghubungi Mas Imam, dia memiliki lapak di kawasan Malioboro, setidaknya aku bisa nitip motor di lapak dia. Dan bukan kebetulan, lapak Mas Imam tepat di depan Malioboro Mal sebagai titik acara, tidak perlu jalan jauh begitu yang ada di kepalaku.
Setelah parkir, aku langsung ngobrol dengan Mas Imam dan beberapa pedagang lapak Malioboro sembari menunggu acara Malioboro Coffe Night di mulai. Ya masih ada waktu 30 menit lagi. Sebab acara di mulai tepat pukul 10 malam.

Sejak pukul 9 malam, kawasan pedestrian Malioboro sudah berubah menjadi lautan manusia yang berdiri sembari mengantre di stan-stan yang tersedia. Sangat ramai, sangat menyenangkan. “Kalau mau ikutan maju hati-hati copet di mana-mana” begitu pesan Mas Imam, ketika pembawa acara menyatakan Malioboro Coffe Night dimulai.
Acara Malioboro Coffee Night diinisiasi oleh Pemerintah Kota (Pemkot) Yogyakarta. Selain untuk memperingati hari kopi internasional juga sebagai wujud syukur memeriahkan ulang tahun kota Yogyakarta ke-261. Satpol PP dan petugas keamanan yang ikutan ngobrol bersama Mas Imam, tidak menyangka akan seramai itu. Maka pengerahan keamanan tambahan pun dilakukan.
Aku masih menunggu giliran, melihat begitu banyak orang yang mengantre bahkan sebelum acara dimulai, membuat aku ciut nyali untuk ikut berdesak-desakan ria menuju stan yang ada. Dari jarak yang masih aman dari desakan orang yang mengantre, aroma khas kopi menguap keudara begitu menggoda untuk dinikmati.
“Nggak usah buru-buru mas, ini sampai pagi kok” begitu saran Pak Iswan, salah satu SATPOL PP yang nimbrung obrolan kami dengan mas Imam. Selain diadakan sampai jam 7 pagi. Tepat jam 5 pagi nanti juga akan ada acara makan bersama; 500 porsi pecel dan 500 porsi gudeg dan dilanjut bersih-bersih kawasan Malioboro. Ngopi gratis, ketemu temen, silaturahmi, ngobrol dan sarapan gratis pula pikirku.
Dari pengeras suara, pembawa acara berkali mengingatkan untuk tetap waspada dengan barang bawaan dan jangan khawatir tidak kebagian. Ya aku rasa semua akan kebagian, sebab ada 10 ribu cup kopi yang disajikan langsung oleh 40 tennant secara gratis.

Malioboro Coffe Night selain berbagi kopi sebagai acara utama juga diisi dengan berbagai aksi seniman jalanan, pagelaran musik, dan obrolan wengi dengan para pegiat kopi. Selain itu tentu saja ada banyak doorprize menarik yang sekali dua sudah mulai dibagikan malam itu. Bagi yang suka foto selfy juga ada hadiah menunggu, nah ini yang membuat aku betah memandang krumunan, sebab banyak sekali dedek gemes yang sedang berselfy ria memanyunkan bibir.
Tepat pukul 11 malam, aku mulai beranjak masuk barisan mengatre. Bersama Mas An. Mas Imam masih sibuk untuk mengemasi lapak. Antre cukup menyenangkan juga, aroma kopi mengudara di mana-mana. Aku sampai pada stan yang menawarkan cita rasa kopi arabika dari Papua, diseduh dengan metode manual V60. Sempat ngobrol-ngobrol karena seduhan pertama aku tidak kebagian, sempat icip-icip biji kopi yang sudah diroasting seperti ngemil kacang. Dan yaps, seduhan ke dua aku dapat. Lalu mundur teratur dan menikmati segelas V60 Arabika Papua. Nikmat sekali pikirku, apa sebab perjuangan mendapatkannya? Tidak ini benar nikmat.

Bagiku mengikutu Malioboro Coffe Night selain silaturahmi dan minum kopi juga bagaimana pengetahuan seputar kopi bisa aku serap sedikit demi sedikit. Sebab melalui barista yang sedang beraksi kita masih bisa bertanya seputar kopi, juga bisa ngobrol dengan pengunjung lain yang memiliki pandangan sendiri-sendiri mengenai kopi. Dengan adanya acara semacam ini masyarakat akan lebih mengerti mengenai kekayaan kopi di Indonesia. Semoga petani kopi juga akan terangkat ekonominya, sebab semakin banyak kedai kopi yang tumbuh di Indonesia
Ketika segelas kopi kandas, dan aku urung untuk antre kembali sebab orbolan malam dengan kawan-kawan Malioboro sangat hangat. Aku teringat Bapakku di rumah, beliau meminum kopi yang beliau tanam dari kebun sendiri.
“Sudah kita habiskan bergelas kopi hitam, bersama berbatang kretek dalam setiap malam menemani kita berbicara apa saja. Pada kopi dan kretek, kita masih mandiri, setidaknya sampai hari ini belum merengek kiriman negara tetangga seperti halnya garam” -Mudji Bapak Saya.
Pak, aku bangga padamu yang menaman sebab begitu kita hidup. Meminum kopi dan menghisap tembakau dari kebun sendiri. Teruslah menanam, kopimu enak pak tak pernah tergantikan bahkan dengan 10 ribu cup kopi malam ini. Sungguh.
Yogyakarta 3 Oktober 2017
Mudjirapontur

Instagram Feed Instagram Feed Instagram Feed Instagram Feed Instagram Feed Instagram Feed

Sapa Maya

More Stories
Puisi: kakek tua