Kota di Kepalaku bagian 1


Walau tidak dengan baik, aku mengenal dia. Ya hanya sebatas tahu. Tapi apa yang membuat dia betah berlama-lama di halte itu? Bukanlah halte itu tidak lagi berfungsi? Tidak akan ada bus kota atau angkutan umum yang akan melewati rute halte itu. Apa dia tidak tahu? Atau… Ah apa peduliku.
1.
Siang dengan langit yang gelap, juga lampu jalan yang tidak lagi menyala dengan baik walau sudah berulang kali ada perbaikan. Kota ini memang sedang murung harinya, siang sudah sangat lama tidak menunjukkan cerianya. Selalu mendung, selalu gelap, tapi tiada hujan, tiada gerimis, petir tetap rajin menyambar dan pamer kilatannya, tapi hujan tiada, matahari juga tiada tampak cahayanya.
Aku tinggal di sebuah lorong sempit penghubung antara kota ini dengan kota di luar. Ya kalau aku tidak salah curi dengar, di luar sana sedang ada proyek pembangunan kota baru, sebuah kota dengan hunian lebih modern, dan yang pasti masih ada hujan dan matahari. Karena itu aku tinggal di lorong ini.
Lorong tempatku tinggal di apit dua gedung pencakar langit yang tak lagi berfungsi, aku bahkan sulit menghitung berapa tingginya. Ini satu-satunya lorong di pinggiran kota yang bisa dijumpai di kota ini. Semua bangunan yang berada di pinggiran koa tidak memiliki jarak, semua rapat, selain itu setelahnya masih ada tembok besar yang menghalangi kontak dengan orang di luar kota.
Tapi sudah satu bulan aku tinggal di lorong ini, sekalipun aku tidak mendengar tanda-tanda adanya kehidupan di luar sana. Ingin sekali aku menelusuri lorong ini, tapi tidak untuk saat ini. Terlalu panjang, terlalu gelap, terlalu berbahaya.
Karena keinginanku untuk menelusuri lorong itu dan mencari kota baru di luar sana, aku rajin mengumpulkan apa saja yang bisa membantu perjalananku nanti. Yang paling penting adalah cahaya, ya apa pun yang bisa menghasilkan cahaya. Sebab dalam lorong itu sama sekali tidak ada cahaya. Kota ini pun hanya mengandalkan cahaya lampu yang sudah mulai redup.
Aku sudah biasa hidup di saluran air di kota ini. Aku mengerti betul lika-likunya setiap gorong-gorong dan terowongan. Maka lorong yang aku yakini sebagai penghubung dengan kota di luar itu pasti juga memiliki banyak lika-likunya. Belum lagi bahaya jika ada reruntuhan yang jatuh dari atas. Karenanya aku harus bisa segera mendapatkan peralatan perjalananku, cahaya ya cahaya aku harus mendapatkan cahaya.
2
Bagian tengah kota adalah tempat yang memiliki cahaya paling terang di kota ini. Di sini aku masih bisa membedakan warna-warna dan membaca nama kereta dari kejauhan. Tidak heran jika di bagian tengah kota ini selalu ramai.
Aku melihat dia lagi. Seperti hari sebelumnya dia selalu berada di halte itu. Bukankah halte itu tidak berfungsi lagi, tidak ada rute angkutan umum atau bus yang akan melewati halte itu. Tapi dia selalu di halte itu.
Satu hal yang dia tidak tahu. Aku butuh halte itu. Sudah sejak lama aku menjadikan halte itu tempat istirahatku ketika lonceng tanda malam tiba mulai berbunyi. Sial, sebentar lagi lonceng itu akan berbunyi dan aku belum menemukan tempat untuk istirahat.
Ya, satu hal yang harus kami patuhi sebagai warga kota ini adalah berhenti beraktivitas ketika lonceng tanda malam berbunyi. Setelah tiga puluh menit sejak lonceng berbunyi, secara perlahan lampu-lampu akan dimatikan, dan kota menjadi benar-benar gelap, hitam tidak bisa melihat apa pun. Dan saat itu bahaya mulai mengancam.
Seperti saat ini ketika aku berada di bagian tengah kota maka halte itu yang biasa menjadi tempatku merebahkan diri dan perlindunganku. Tidak ada kejahatan dan bahaya yang datang di fasilitas umum milik negara. Tapi dia, ah sial dia tidak beranjak. Aku harus segera menuju gorong-gorong terdekat yang begitu amis itu, ah. Sial.
Mudjirapontur
Kota di kepalaku : jika tidak ingkar terbit seminggu sekali setiap hari sabtu/minggu. 

Latest posts by ryanarirap (see all)
Instagram Feed Instagram Feed Instagram Feed Instagram Feed Instagram Feed Instagram Feed

Sapa Maya

More Stories
Beberapa Alasan Menulis Cerpen