Ketika hubungan kita di ujung ekor kerbau


Dalam hidupku yang monoton dengan rutinitas yang kurang lebih sama dalam setiap harinya. Kecuali ketika hari bersama Ibu dan Bapak serta keluarga di rumah sana. Aku selalu mencari waktu untuk pulang ke rumah orang tua ketika ada libur kerja. Sebab di hari itu aku merasa menjadi manusia seutuhnya. Stop. Lha kok malah curhat pribadi.
Aku ini orangnya bisa tahan. Tahan dengan rutinitas yang sama. Tapi aku sesekali tidak tahan. Tidak tahan dengan pertanyaan dan curhatan yang sama. Apalagi sudah menyoal sebuah perasaan, suatu hubungan. Lha aku bisa apa, bisa kasih solusi apa. Kene ki pendekar kesepian je.
Malam tadi sahabat baikku meminta pendapat soal hubungannya yang sudah di ujung ekor kerbau. Sekali saja kerbau itu mengibaskan ekornya niscaya hubungan itu akan terhempas berantakan. Tapi sepertinya kerbaunya sedang tiduran cukup pulas, dan tidak ada serangga yang menggagu jadi sementara masih aman ekor itu tidak bergerak sementara waktu.
Meminta pendapat soal sebuah hubungan yang akan diakhiri, itu sangat ngapleki. Apa pun alasannya. Bagiku sebuah hubungan mau lanjut, berhenti sejenak, atau diakhiri itu urusan dua pihak, tidak bisa sepihak dan tidak bisa dilimpahkan kepada pihak lain. Ini bukan soal kredit motor yang bisa dipindah tangankan. Ini soal hati, bukankah begitu saudara sekalian?
Sebab meminta pendapat itu sah hukumnya dan tidak masuk dalam pasal yang dilarang. Maka memang sangat boleh untuk menyampaikan kegelisahan persoalan dari pada dipikir njelimet sendiri. Tapi tetap keputusan adalah murni dari hati sendiri, pendapat sebagai bahan tambahan saja.
Berikut adalah apa yang aku pikirkan ketika ada yang curhat sedang dilanda persoalan untuk mengakhiri sebuah hubungan.
1. Komunikasi sebagai solusi.

Komunikasi yang baik akan memberikan solusi yang baik. Aku yakin komunikasi adalah kunci dari segala hubungan, baik itu cinta, pekerjaan, pertemanan dan hubungan yang lain. Komunikasi yang tersendat akan menimbulkan kekacauan sebuah hubungan.
Mau lanjut atau berakhir semua perlu komunikasi dua arah. Kalau hubungan diakhiri secara sepihak harap hati-hati sebab menyesal kemudian itu sering terjadi.
Hubungan dimulai sebab adanya komunikasi dua arah, ada kalimat permintaan dan berbalas kalimat persetujuan maka lahirlah kata sepakat untuk menjalin sebuah hubungan. Begitu pula ketika akan mengakhiri.
Sampaikan segala keberatan dan kondisi terkini hubungan dalam kaca mata masing-masing. Dengar dan resapi sanggahan dan penjelasan dari pasangan. Sebab sangat mungkin keinginan mengakhiri hubungan itu karena adanya ke tidak jernihan informasi yang diterima, atau komunikasi yang tersendat belakangan.
Dengan komunikasi yang baik, maka keputusan untuk mengakhiri atau melanjutkan akan lebih afdal dan saling terbuka serta lapang dada. Welah kok aku jadi bijak sana sini begini.
2. Nggak usah pakai break dulu
Kalau memang ingin mengakhiri hubungan nggak usah deh pakai kalimat “kita break aja dulu ya” serius ini sangat memuakkan.
Menurutku ‘break‘ dalam sebuah hubungan adalah lelucon era modern yang diciptakan oleh cabe-cabean labil tapi entah kenapa dipraktikkan orang yang mengaku dewasa.
Tegas saja. Kalau mau berhenti ya berhenti, kalau mau lanjut ya lanjut. Rumangsamu penak berada di zona break itu? Ngantung, nggak jelas. Mau cari lagi tapi ada beban belum jelasnya hubungan yang ada, mau nunggu kok nggak jelas kapan jawabnya. Ramasyok blas.
Kalau sahabat sekalian punya pasangan yang suka main break, pegang telinganya tarik ke atas dan teriakan “ra sudi…” sekeras-kerasnya.
3. Pasanganmu nggak butuh kalimat puitis
Ingat yang diperlukan pasangan ketika hubungan sedang mengalami guncangan bukan sebuah kalimat puitis. Tapi kepastian. Jiahahaha..
Nggak usah kirim chat panjang yang sok bijak, puitis, dan romantis yang ujung-ujungnya ngajak bubaran. Sepuitis apa pun itu tetap menyakitkan, tetap ngapleki. Gunakan bahasa yang sederhana dan jelas tujuannya saja, nggak harus pakai pedoman KBBI kok.

“Sebenarnya aku masih sangat mencintaimu, tapi persoalan yang berulang kali harus kita hadapi dan menyudutkanku pada pilihan yang sulit ini akhirnya memaksa aku untuk memilih berhenti mengharapkanmu, aku percaya Tuhan punya rencana yang lebih baik, kau akan bahagia dengan seseorang yang jauh lebih baik dariku”

Kalau dalam kehidupanku chat yang demikian sangat-sangat misuhable alias layak dipisuhi.
Mengakhiri sebuah hubungan ya tegas saja, kalau memang persoalannya sudah dibicarakan dan sudah ada komitmen sebelumnya yang ternyata tidak dapat sejalan ya sudah sampaikan keputusan dengan tegas, tajam, terpercaya.
4. Ciptakan kesempatan terakhir
Bagaimanapun hubungan pasti mengalami dinamika dalam perjalanannya. Persoalan-persoalan yang datang memang sering kali membuat kita berpikir rumput tetangga lebih panjang dan segar. Tapi ingat bukankah dulu ketika kali pertama bertatap mata juga kita merasa dia rumput yang terbaik?
Maka ciptakan kesempatan terakhir sebelum semua benar-benar berakhir. Ini nyambung kepada poin pertama yaitu komunikasi yang baik.
Setelah ada kesempatan terakhir yang disepakati dan ternyata terulang kembali. Boleh jadi memang belum layak kamu dan pasangan untuk saling melanjutkan ke sesi yang lebih inti lagi. Komitmen menjadi yang lebih baik di kesempatan kedua adalah usaha dan kerja bersama. Ingat semboyan presiden kita kerja bersama. Begitulah sebuah hubungan.
***
Apa pun alasannya tidaklah mudah mengakhiri sebuah hubungan. Kebersamaan yang sudah terjalin selama ini jangan menjadi sia-sia belaka. Dan hubungan yang baik itu yang bekerja di antara kehendak keduanya, bukan bekerja untuk kehendak orang seorang. Hubungan ada sebab tujuan bersama sudah lebih dulu diciptakan, ini bukan sekadar kesepakatan untuk beranak pinak bukan?
Ah sudahlah, saya pun tak tahu betul soal yang seperti ini. Memang ngapleki sekali malam minggu ini. Salam.
Mudjirapontur

Instagram Feed Instagram Feed Instagram Feed Instagram Feed Instagram Feed Instagram Feed

Sapa Maya

More Stories
Hai kenangan, daun gugur dan hujan