tak lagi tahan

16:12
Dengan tergesa-gesa aku segera keluar dari ruangan itu. Sebuah ruangan cukup lebar dengan pencahayaan minim, hanya ada satu lampu lima wat yang mengelantung di langit-langit.
Sial. Kenapa aku harus lari, ini bukan salahku. Tidak ada CCTV, tidak ada saksi mata, tidak ada yang bisa menyalahkanku. Harusnya aku santai saja. Aku tidak meninggalkan satu sidik jaripun di sana. Entahlah.
15:37
Temani aku. Begitu aku meminta kepadamu. Dan kau menolak. Aku ini sudah terlalu lama berteman sendiri. Sudah senior aku di ruang kesepian ini. Apa kau masih saja tak ingin meluluskan segala sepi yang aku jalani. Temani aku.
Ah…. Omong kosong. Bangsat kataku. Kau memang selalu begitu. Berjalan dalam ramaimu sendiri. Kau tak sekali sudi sekadar melirikku. Kau kata kau mau menemani, tapi sudah aku pinta berulang kali kau tak jua mau ada di sini. Kau kira aku ini bodoh, hah?
Kupu-kupu menari manja di atas kepalaku. Semerbak wangi bunga itu tercium hidungku, begitu tajam dan semrawut. Ah… Khayalan. Bangsat kataku. Aku tak ingin kau sekadar dalam semu ilusi itu lagi dan itu lagi. Nyatalah di depanku. Di ruang kesepian ini. Temani aku.
Hai… Anjing. Ya kau Anjing bukan. Temani aku. Ah… Dasar Anjing, kau pun menolak permintaanku. Bukankah kau selalu bisa menjadi teman setia untuk manusia? Apa kau kira aku bukan manusia? Hai.. Ajing tunggu. Jangan pergi. Sial. Temani aku.
Prak!! Gelas pecah. Lagi dan lagi. Hanya suara gelas kaca pecah, begitukah yang bisa memecah sunyi sebentar. Dan bukankah itu gelas kaca yang dia titipkan padaku. Dasar Anjing sialan, kau pecahkan gelas itu. Temani aku. Anjing. Jangan pergi. Sial. Aku tak bisa terus di sini sendiri. Aku akan pergi, terserah kau datang kembali atau tidak nanti. Aku tak lagi tahan menunggumu di sini.
Mudjirapontur

Instagram Feed Instagram Feed Instagram Feed Instagram Feed Instagram Feed Instagram Feed

Sapa Maya

More Stories
Kami Menyesal Membaca Kisah Perjudian Anda