Aku dan Wanti melukis puisi


Aku buka pintu ruang semedimu, tanpa permisi. Nafasku seketika sesak oleh bau semerbak cairan yang telah lama menjadi sahabatmu. Di ruang sempit, sirkulasi udara tak bisa lagi sempurna kau selalu betah berlama-lama.
Di sudut kiri ruangan kanvas-kanvas kosong, juga mereka yang separuh terisi. Di tengah ruangan ada bangku kayu kecil kesukaanmu, entah apa warna kursi itu sudah seperti pelangi yang carut marut. Selebihnya adalah sobekan kain, kuas dan kaleng cat. Tepat di meja kecil samping kiri kursimu tergeletak tak lagi terisi cangkir kaleng air minummu, banyak sidik jarimu di sana, penuh warna.
“Hai, maling! Berainya kau merekam anak-anakku” ucapmu sedikit teriak.
“Belum aku nyalakan kameraku” ucapku.
“Jangan coba-coab, sini lihat” jawabmu, seketika merebut kamera dari tanganku lalu fokus meneliti. Ketika kamera itu kembali ketanganku, benar saja foto-fotoku tak lagi tersisa.
“Lagi? Dasar pembohong! Jangan pernah mengambil apa pun di sini, kau harusnya bisa baca tanda itu” ucapmu kemudian membelakangiku, sembari menunjuk tanda larangan (berisik, memotret dan kentut) yang ditempel tepat di tengah daun pintu.
“Kelak anak-anakku perlu tahu seperti apa mainan ibunya” Aku coba merayu.
“Kau pikir mereka perlu menyaksikan kekacauan alam imajinasiku?” Ucapmu masih membelakangiku.
“Setidaknya kelak kau perlu mendongeng sebelum mereka tidur” Aku masih mencoba merayu.
“Kau kira mereka bodoh? Bukannya jelas siapa yang pandai mendongeng” Ucapmu sembari sibuk membersihkan kuas yang mengeras.
“Siapa?” Ucapku sembari mendekat.
“Bukan ibunya, tapi ayahnya” Jawabmu sembari menggoreskan kuas keras itu ke hidungku. Ah, sakit tapi aku suka.
Aku mencoba membantu merapikan sedikit apa yang tercecer tidak pada tempatnya. Seperti biasa kamu selalu menolak, alasanmu sederhana kau merasa lebih mudah menemukan barang-barangmu dalam ketidak teraturan. Aku kadang sepakat, tapi kali ini benar-benar berserakan.
“Aku sudah menunggumu lebih dari 17 menit” Ucapmu kemudian.
“Bukankah janji kedatanganku masih 13 menit lagi?” Sanggahku.
“Ya, benar. Tapi kau selalu hadir 30 menit sebelum janji dari waktu yang kau sepakati bukan?” Jawabmu.
“Apa aku harus beralasan untuk itu?”
“Tidak perlu. Hanya saja kopi yang aku buat sudah dingin sekarang” Jawabmu, sembari mengajakku keluar dari ruangan sempit itu.
Obrolan kita seperti yang sudah di sepakati akhirnya dimulai. Di beranda depan rumahmu kita selalu bicara apa saja. Entah aku yang salah mengartikan gurat wajahmu atau memang ada sesuatu yang sedang bergelut di dalam dirimu, kau terlihat begitu kacau.
Bagaimana kabar Arko?” Kau membuka kembali pembicaraan.
“Aku memandikannya ketika pulang minggu lalu”
“Bagaimana dengan Nanda?”
“Nanda sepertinya harus segera bertemu denganmu”
“Kenapa?”
“Dia mulai betah berlama-lama dengan krayon juga spidol. Sebelum perayaan ulang tahun ke empat, jika kau sempat berkunjunglah untuk Nanda”
“Kenapa dia harus kau kenalkan dengan goresan warna?”
“Alami saja, kedua orang tuanya tidak ada yang bisa bermain warna, tidak juga aku pamannya” Jawabku, dan seketika raut wajahmu berubah. Aku tidak bisa mengartikan.
“Nanda ikut memandikan Arko, dan kena cakar tepat di jidat samping kiri” Aku mencoba mencairkan suasana. Yang aku tak tahu suasana apa yang sedang berlangsung di beranda rumahmu.
“Setidaknya itu tanda, Arko sudah menjadi kucing dewasa sekarang” Jawabmu. Lalau pembicaraan kembali terhenti.
Aku mencoba menikmati kopi dingin buatanmu, dan sesekali melirik ke arahmu lalu membuang pandang jauh ke depan tepat kepada pohon jeruk dan rambutan.
“Kau berkujung ke rumahnya?” Kau kembali membuka pembicaraan. Aku tidak segera menjawab. Aku memilih meraih bungkus rokokku dan menyalakan satu dari lima batang yang masih tersisa.
“Apa terlalu berat untuk segera menjawab” Lanjutmu kemudian.
“Tidak sama sekali” Jawabku.
“Lantas kenapa kau menunda melakukannya?”
“Aku hanya menangkap sebuah nada cemburu yang turut serta di pertanyaanmu” Ucapku.
“Aku justru bisa segera menaruh curiga dari caramu menunda” Jawabmu.
“Iya. Aku berkunjung kerumahnya”
“Apa kabarnya?”
“Jauh lebih baik”
“Apa kau mendapatkan kopi kesukaanmu?”
“Sayangnya tidak”
“Mengapa”
Ada sebuah buku catatan harian yang membuatku urung meminta segelas kopi” Kali ini, aku yakin raut wajahku yang berubah. Dan sialnya kau menangkap dengan pasti setiap inci perubahan itu.
“Kau ingin bercerita?”
“Tentang apa?”
“Sesuatu yang kau baca”
“Seperti dugaanmu dulu”
“Dia mencintaimu?”
“Bisa jadi demikian”
“Apakah buku catatan harian itu juga berarti jawaban dari sekumpulan pertanyaan dalam puisi yang kau tulis tiga tahun lalu?”
“Tanpa aku membaca buku catatan harian itu, aku rasa aku sudah menemukan jawaban dari setiap puisiku”
“Bolehkah aku cemburu?”
“Untuk apa?”
“Untuk aku yang tak pernah ada dalam setiap puisimu” Ucapmu dengan senyuman. Lalu aku membeku diam, kau pun demikian.
Waktu kemudian berjalan terasa lambat. Walau sejatinya waktu adalah tetap pada tempatnya. Aku masih mencari-cari kalimat yang tepat untuk menyambung pembicaraan, pandanganku sudah habis tak berkutik.
Aku melihat kau yang juga sama, menatap jauh ke pohon rambutan dan diam. Ingin rasanya aku meraih telepon genggamku, namun aku tahu itu tak boleh. Baik aku dan juga kau sudah sama-sama setuju tidak ada telepon genggam saat bertemu.
“Kau mau bantu aku?” Ucapmu tiba-tiba, memecah suasana.
“Mau” Seketika aku menjawab tanpa mencerna terlebih dulu.
“Ayo masuk” Pintamu seketika beranjak dari beranda dan kembali masuk ke ruang semedimu. Kau langsung sibuk meramu warna, juga membenarkan letak kanvas kosongmu.
Aku masih mematung di samping pintu, tidak tahu apa yang bisa aku bantu untukmu.
“Bacakan aku sebuah puisi” Ucapmu.
“Puisi?”
“Ya, sekarang” Aku segera membaca sebuah puisi, lebih tepatnya tidak membaca sebab aku hanya improvisasi dari sebuah perasaan yang aku sedang alami saat itu. Jika aku di minta menulis atau membacakan kembali tentu aku tak ingat.
Dan kau kemudian sibuk dengan kuas, ramuan warna serta kanvas. Aku baru paham maksudmu sekarang, kau coba melukiskan apa yang aku ucap dalam puisi sebagai perwakilan perasaan.
Hasil goresan kuasmu indah sekali, di atas kampas puisiku dan imajinasimu menyatu.
“Yan, Ryan…” Suara itu membangunkanku. Seorang teman yang berkunjung ke kamar kosku. Sial pikirku, ternyata hanya mimpi, tapi tak mengapa ini mimpi yang indah sekali. Aku tersenyum bahagia sekali.
Sorowajan Baru September 2017
Mudjirapontur

Latest posts by ryanarirap (see all)
Instagram Feed Instagram Feed Instagram Feed Instagram Feed Instagram Feed Instagram Feed

Sapa Maya

More Stories
Dialog takut dan berani