Yang Kau Tulis Sore Itu

Hai…
Sudah lama, jauh sebelum kepergian itu kita berpisah. Apa kabar kamu hari ini? Tentu sudah sangat berbeda cerita tentang kamu. Dalam ruang dan waktu serta tokoh-tokoh baru. Sedang sibuk apa kamu tahun ini? Apa kamu masih suka menandai kalender tahunan? Hai kamu, sudah lama sekali. Iya kamu, sudah jauh sekali.

***

Sore itu menjadi sore tak biasa, satu waktu yang ingin aku lompati. Pun ketika akhirnya aku melalui sore itu juga sore di hari-hari selanjutnya yang menjadikan aku melakukan keputusan-keputusan besar. Tentang kuliah yang berantakan, atau botol bir yang berserakan, atau nyawa yang hampir pergi, atau malaikat kecil yang sakit hati. Aku melewatinya. Tiga tahun sudah berlalu.

Hari ini aku merasa kembali, menjadi manja untuk mengenang semua yang telah lalu. Tapi sudahlah lupakan saja, aku tak ingin menulisnya biar ia menjadi bagian kecil yang mengganggu ku malam ini aku tak keberatan, bukankah ia akan menjadi baik menemani malam ku yang selalu terjaga.

Sebab aku tak ingin menuliskan perjalanan sejak sore itu, ada baiknya ku tulis saja apa yang kau tulis untukku sore itu.

“….

Kau memang bodoh, kenapa? Karena kau masih saja mengikuti langkahku, menjadi tameng di belakangku, menjadi layar hitam putih di balik mimpi-mimpiku dan terus saja percaya akan mimpi bodoh, konyol yang abu-abu terasa takmungkin.  Ah memang bodoh, mencintai orang bodoh. Pergilah agar kau tak tersakiti! Pergilah sayang, jangan ikuti aku lagi.

Diriku laksana jarum neraka, jika kau pahami. Menyesatkan, membutakan akal, merancuni pikiran. Medoktrin teori-teori bodoh. Aku memang benar seperti jarum-jarum yang terus menancapkan taring dalam urat nadimu, terus dan terus hingga kau kan mati berlahan. Tanpa kau sadari tanpa kau rasakan aku sedang membunuh dirimu secara perlahan. Dan hanya dirimu, ya dirimu sendiri yang bisa menyelamatkan hidupmu. Kau harus sadari sayang, jiwamu selalu dalam bahaya, jika kau masih saja bersamaku. Jiwamu terus saja dalam bayangan-bayangan bahagia di kemudian hari, terus saja terbuai dengan janji-janjiku. Padahal kau tau itulah jarum neraka, omong kosong belaka.

Kau jangan pura-pura tak memahami kata-kataku, dalam hatimu aku tak pernah tau apa yang kau pikirkan. Tapi dari matamu aku tau ada sesuatu yang hilang. Sesuatu yang hilang, dan itu bahagiamu. Aku tak berargumen omong kosong belaka, kau harus jujur bahwa kau tengah jenuh, lelah, letih untuk memahamiku. Pasti ada dan sudah pasti terjadi keadaan di mana kau merasa benar-benar ingin meningalkanku. Dan terus saja kau racuni hiudpmu dengan terus dan terus mempercayai kekuatan mimpi. Ku tak tau apa yang telah menghipnotismu, akankah ada titik dimana kau kan sadar? Bahwa aku harusnya kau tingalkan.

Aku hanya ingin berkata pasal penyesalan, kau tau betapa aku menjadi sosok yang membunuh karatermu. Harus, dan memang aku akui betapa dalam rasa cintaku padamu. Dan aku berharap ini kan terus begini, dan tak akan ku sesali walau ini hanya mimpi. Tapi suatu ketikapun ingin ku lupakan cinta ini, ingin aku mengingkari bayanganmu tapi selalu saja datang. Ku pahami kendati kukan mengantikanmu dengan sejuta lelaki, tetap saja kau kan hadir dan kemudian dalam kegundah gulanamu, aku kan kembali menjadi jarum neraka yang akan mencandukanmu? Hingga kau tak dapat berbuat apa lagi. Itukah cinta? Saat harus saling teluka? Terkuatkan hanya dengan mimpi dan janji?. 

Kau seharusnya paham, mimpi-mimpi yang indah itu hanya sebentar saja, kau tau bunga? Ya ia kan mekar namun tak lama ia akan layu dan tergantikan, mati. Begitu juga dengan mimpi, bisa saja kita terus bermimpi dan terbuai oleh janji. Tapi kau harus paham, tiga tahun hubungan ini. Apa yang telah ku berikan padamu? Tak ada kan? Nah apa yang kau tunggu dariku? Apa kau hanya menunggu untukku sakiti? Apa ia? Sungguh kau lelaki bodoh, jika kau berfikir ada cahaya terang kelak, sementara saat ini terus saja mendung dan gelap yang ku berikan padamu. Kau harus paham, buka hati dan jiwamu. Kau tak boleh diam, kau bukan perahu kertas, bukan pula tokoh cerita dalam kertas, kau adalah kau. Dan kau punya mimpimu sendiri jangan terus membuntuti aku yang tak jelas kan kemana melangkah.

Aku yang masih saja aku, yang tak cukup saja menjadikanmu seperti ini, hanya membuatmu terbuai mimpi dan janji, terus saja ku bodohimu dengan teori-teori bobrokku, dan kau terus saja mengikutiku, terjal, bahkan terluka langkahmu pun kau tetap saja keras kepala. Kalaupun aku adalah jarum neraka bagimu, kenapa kau terus saja merelakan nadimu untu teracuni olehku, hingga terombang-ambing dalam kehidupan ini. Itu kah yang disebut cinta? Aku bertanya padamu. Itukah cinta? Saat hanya satu objek yang bahagia dan satu objek menderita? Bagiku ini bukan cinta…”

Hai kamu, Masihkah kau ingin menulis lagi untukku?

Dalam Kenangan Perjalanan

Mudjirapontur

Latest posts by ryanarirap (see all)
Instagram Feed Instagram Feed Instagram Feed Instagram Feed Instagram Feed Instagram Feed

Sapa Maya

More Stories
Aku mengundangmu untuk berpuisi dan berbagi