Bertemu Syam di Surga atau Neraka

Sebuah Usaha Menulis Cerita SMA

Jika ada orang yang siap mati untuk sahabatnya, maka aku punya segudang nama yang tidak aku sanksikan akan melakukan itu. Syam salah satunya.

Bukan sebab Syam memang punya hobi berkelahi dan memiliki postur tubuh serta kekuatan yang mumpuni, serta usianya yang jauh di atasku, tapi sesuatu yang berada di dalam dirinya. Ya Syam seorang kawan, sahabat, dan juga bisa menjadi seorang Abang. Ibuku sangat suka dengan Syam.

Sewaktu SMA dulu, ketika aku masih imut, lulu dan unyu, aku terlibat perkelahian besar. Kenapa aku sebut perkelahian besar? Karena memang lawan yang aku hadapi adalah alumni lulusan dua tahun sebelum aku masuk SMA, dan namanya cukup ditakuti waktu itu.

Pemicu perkelahian itu adalah soal cinta. Ya cinta, salah satu dari sekian banyak faktor yang bisa menyebabkan bibir jontor. Singkat cerita aku dekat dengan seorang murid perempuan, Farra namanya, kedekatan kami bukan kedekatan yang mengarah ke percintaan. Kedekatan kami wajar adanya, bersahabat.

Sebab arah angin cemburu tak pernah bisa ditebak dari mana datangnya, Ray kekasih Farra seketika cemburu bukan buatan melihat kedekatan aku dan Farra. Semua bermula dari aku mengantar pulang Farra.

Ya, waktu itu ada kegiatan akhir semester di SMA kami. Farra yang biasa diantar jemput pamannya entah mengapa hari itu pamannya berhalangan untuk menjemput Farra. Akhirnya aku berbaik hati mengantarkan Farra pulang, itu pun tidak benar-benar sampai di beranda rumah Farra, yang aku sendiri tidak tahu di mana rumah Farra. Aku hanya mengantar sampai di depan kantor kecamatan, kata Farra rumahnya tidak jauh lagi.

Selang beberapa hari kemudian, aku diculik, dipaksa naik sepeda motor bonceng tiga. Aku duduk di tengah, setelah adu mulut dan sedikit pergesekan fisik. Dalam perjalanan di atas sepeda motor itu satu pukulan melayang tepat di telingaku, ngilu bukan buatan.

Aku dibawa ke lapangan milik koramil. Lapangan ini memang biasa buat nongkrong anak-anak muda seusiaku. Di sana sudah ada lima orang yang menunggu kedatanganku. Belum sempat aku berkata sepatah kata pun pukulan dan tendangan beruntun melayang dari berbagai arah. Aku hanya sempat menarik satu orang dan menjatuhkan tubuhnya lalu memukuli wajahnya, sedang tubuhku yang lain ringsek oleh pukulan dan tendangan enam orang lainnya.

Syam tahu indikasi adanya pengeroyokan terhadap diriku. Walau dia datang terlambat, setidaknya dia telah menyelamatkanku dari luka yang lebih parah, dan perkelahian selesai dengan kaburnya gerombolan itu.

Dari Syam dan Farra aku tahu sebab dari semua ini. Sore harinya Syam memburu wajah-wajah yang masih dia ingat, namun yang menjadi buron utama adalah Ray.

Syam mendatangi tempat berkumpul komplotan Ray, di sana perkelahian kembali terjadi. Syam marah, tentu saja marah yang belum pernah aku saksikan dari kemarahan Syam sebelumnya. Aku yang dibawa serta Syam hanya bisa menyaksikan amukan Syam yang menggila.

Kata damai tidak ada bagi Syam. Perseteruan antara aku dan Ray kini menjadi perseteruan Syam juga. Setelah membuat Ray ringsek dan memastikan dia tidak akan asal main keroyok lagi, aku membawa Syam ke Apotek untuk membeli dan mengobati luka Syam. Ya Syam sangat benci puskesmas dia lebih suka Apotek.

Sore itu, ketika azan magrib berkumandang dan langit jingga khatulistiwa masih bisa aku saksikan indah cahayanya, aku dan Syam duduk di depan Apotek. Aku haru oleh totalitas persahabatan yang ia berikan. Sampai hari ini, ketika dia sudah berumah tangga dan memiliki seorang putra, Syam masih sama seperti dulu, selalu ingin membantu apa pun itu, walau kini jalan pedang tak lagi ingin dia lewati.

Dan beberapa waktu lalu dia meneleponku.
“Apa di surga nanti kita bisa bertemu?” Ucapnya.
“Kenapa tiba-tiba kau menjadi religius begitu?” Jawabku.
“Kata orang di surga semua menjadi mudah” Ucapnya.
“Sehingga kau tak bisa lagi membantuku?” Jawabku.
“Ya” Ucapnya, dilanjut tertawa.
“Jika begitu bantu aku keluar dari neraka dan bertemu kau di surga” Jawabku.
“Sebentar, sepertinya aku yang meminta bantuanmu jika begitu” Ucapnya.
“Hahahahaha” Kami tertawa. Itulah Syam, seorang yang meyakini Tuhan ada walau dilabeli sebagai seorang ateis.

Wonosobo 9 September 2017
Mudjirapontur

Instagram Feed Instagram Feed Instagram Feed Instagram Feed Instagram Feed Instagram Feed

Sapa Maya

More Stories
Keinginan membuat audio blog