Bercermin dengan novel 1984 George Orwell


Judul: 1984
Penulis: George Orwell
Penerjemah: Landung Simatupang
Penerbit: Bentang
ISBN: 9789793062778
Jumlah Halaman: 436
Beberapa hari ini, di grup obrolin dari redaksi web obrolin mengumumkan ada rubik yang sedang menunggu terisi. Ya, rubik resensi buku. Ingin sekali saya mengirim kepada redaksi obrolin, tapi saya kira nanti akan menumpuk resensi yang benar-benar resensi dari kawan-kawan lain, selain saya juga belum bisa meresensi buku.
Malam tadi tiba-tiba saya teringat satu buku pemberian kawan saya, buku dengan judul 1984 karya George Orwell. Buku ini harus saya baca dua kali agar saya dapat bercinta dengan setiap kata yang tertuang di dalamnya, dan nyatanya saya tidak bosan ketika membaca ketiga kalinya.
Pagi ini saya mencoba untuk berbagi pengalaman saya membaca buku 1984 ini. Ada beberapa coretan yang saya pernah catat di buku saku saya, juga beberapa tanda di halaman buku 1984.
Yang paling melekat dalam ingatan saya adalah sebuah slogan;
PERANG IALAH DAMAI
KEBEBASAN IALAH PERBUDAKAN
KEBODOHAN IALAH KEKUATAN
“BUNG BESAR MENGAWASI SAUDARA”.
Novel 1984, judul aslinya adalah Nineteen Eighty-Four. Sebuah buku karya George Orwell yang diterbitkan pada tahun 1949. Dalam buku ini Orwell menceritakan mengenai keadaan di dunia pada tahun 1984, sebuah masa yang Orwell tidak lagi bisa menghirup udaranya, sebab Orwell meninggal tahun 1950.
Tahun 1984, digambarkan Orwell sebagai masa dengan kekuasaan rezim yang mengamati setiap tingkah laku rakyatnya, tidak ada satu tempat pun yang lolos dari pengamatan, termasuk kamar tidur sendiri. Pada tahun 1984 tersebut Orwell membagi dunia menjadi 3 negara besar: Oceania, Eurasia, dan Eastasia.
Sebagai pembaca saya masuk pada kehidupan Winston Smith (tokoh utama), dia adalah seorang anggota Partai yang berkuasa di Oceania. Kehidupan Winston sangat monoton dan membosankan.
Bagaimana tidak membosankan, apabila dalam setiap kehidupannya, setiap gerak gerik tubuhnya selalu diawasi oleh kekuasaan partai. Kehidupan sosial orang-orang diawasi oleh sebuah alat yang disebut teleskrin. Alat ini dapat mengawasi kehidupan setiap orang, dia seperti CCTV yang dipasang di mana-mana, di rumah, kamar, jalan dan banyak tempat.
Di setiap sudut ruang, jalan, dinding dan tembok akan ada poster besar gambar BUNG BESAR (big brother), dia dianggap sebagai pimpinan partai, dengan bertuliskan BUNG BESAR MENGAWASI SAUDARA.
Kehidupan yang dijalani oleh Winston dan seluruh penduduk adalah kehidupan di mana diktatorisme partai menguasai kehidupan rakyatnya. Rakyat harus patuh total dengan aturan partai, tidak ada aktivitas yang tidak berdasarkan ketentuan, seizin dan dalam pengawasan partai. Apa yang di makan dan minum seusai aturan partai. Bahkan sekadar membeli pisau cukur.
Winston, ketika itu melihat sebuah buku tulis tua di toko barang bekas. Ia bersembunyi-sembunyi untuk bisa berada di toko tersebut. Lalu ia membeli buku tua itu, dan dia tidak tahu apa yang dia lakukan. Ia mencoba menulis. Menulis itu tindakan terlarang.
Winston mencoba menulis dengan menghindari teleskrin di ruang kamarnya, ia mencari sudut di mana alat itu tidak dapat mengawasi gerak geriknya.
Teleskrin menjadi alat pengawas rakyat sekaligus sarana komunikasi satu arah kepada rakyat. Kabar dari partai, jargon-jargon kekuasaan, berita perang disuarakan melalui teleskrin.
Selain itu partai juga melakukan rekayasa informasi dengan mengubah informasi dan data tentang sejarah masa lalu. Seluruh media milik partai dan di bawah kendali kekuasaan partai. Apa yang ditulis dan diumumkan adalah semua yang lolos sensor kehendak partai.
Selain penghapusan sejarah dan pembelokan informasi kekuasaan partai juga membuat bahasa baru (newspeak), sebagai bahasa untuk mendukung totalitarianisme partai, bahasa tersebut merupakan perwujudan revisi bahasa lama (oldspeak) dengan menghilangkan kata-kata yang dianggap bisa digunakan untuk pemberontakan.
Partai menerbitkan secara rutin kamus besar bahasa baru dan rakyat harus berbahasa sesuai kata-kata yang ada dalam kamus tersebut.
Winston yang memiliki pemikiran tidak sejalan dengan partainya, akhirnya bertemu dengan Julia. Dari sini mulai masuk kisah percintaan antara Winston dan Julia. Keberanian Julia menyatakan cintanya kepada Winston, menjadi bara semangat pemberontakan di hati Winston semakin kian berkobar.
Winston mulai mencari cara untuk meloloskan diri dari pengawasan Polisi Pikiran yang selalu memantau aktivitas anggota partai. Winston dan Julia mengadakan pertemuan secara sembunyi-sembunyi untuk melakukan kencan, bercinta dan saling bertukar pikiran masalah ketidaksenangan mereka terhadap partai dan keinginan menjadi manusia yang bebas.
Winston seperti mendapatkan angin segar dan merasa apa yang ada dalam pikirannya juga berada di pikiran banyak orang ketika dia mulai didekati oleh O’Brien. Menurut Winston O’Brien adalah seorang anggota persaudaraan, sebuah organisasi bayangan Winston yang merupakan organisasi bawah tanah di mana bertujuan untuk memberontak terhadap kekuasaan Bung Besar.
Winston semakin yakin dan percaya bahwa dia memiliki rekan seperjuangan dan akan bertemu dengan banyak anggota persaudaraan melalui O’Brien, selain itu dia juga telah memiliki pasangan yaitu Julia.
Tapi apakah demikian? Apakah Winston berhasil mewujudkan cita-citanya? Apakah O’Brien dapat membantu Winston? Apakah dia dapat lolos dari pengawasan polisi pikiran? Apakah sebuah negara yang bebas tanpa dominansi Bung Besar dapat terwujud? Siapakah Bung Besar sebenarnya? Jawabannya tentu dengan membaca novel 1984.

Buku 1984 ini masuk dalam berbagai kategori buku terbaik, 1001 books you must read before die, 100 Top BBC Big Reads, dan All Times 100 Novels. Ya penghargaan yang sangat pantas untuk sebuah karya yang luar biasa dari Orwell.
Orwell menulis 1984 setelah Perang Dunia II berakhir. Namun melalui 1984 Orwell mencoba untuk memperkirakan kemungkinan di masa depan bagaimana perpolitikan sebuah negara. Orwell seperti menjelaskan bagaimana: dominasi mayoritas sebuah partai akan mengakibatkan diktatorisme tunggal sebuah rezim.
Menurut saya gambaran Orwell tentang keadaan di tahun 1984 dengan negara Oceania sangat memiliki kemiripan dengan berbagai kehidupan politik di berbagai negara. Meskipun tidak sama persis. Tapi banyak negara yang menggunakan determinasi pengawasan sebagai sarana mempertahankan kekuasaan partai, banyak rezim yang mencoba melangengkan kekuasaan. Indonesia sepertinya pun pernah mengalami.
Dan seperti ketika teman saya memberikan buku 1984 kepada saya dia berkata “Mas membaca buku ini seperti bercermin, coba luangkan waktu dan bacalah”
Ketika saya selesai membaca dan bertemu kembali dengan teman saya tersebut saya hanya bisa berkata “Orwell berhasil melihat dan mengabarkan kehidupan melebihi usia hidupnya”
Sebagai informasi tambahan Buku 1984 juga telah diadaptasi menjadi sebuah film. Namun saya sarankan membaca terlebih dahulu sebelum menonton film tersebut.
Terima kasih sudah membaca, mohon maaf atas segala kekurangan. Salam.
Mudjirapontur

Instagram Feed Instagram Feed Instagram Feed Instagram Feed Instagram Feed Instagram Feed

Sapa Maya

More Stories
Ingat mantan di hari minggu itu Ngapleki