Ibu jangan menangis


Ibu, aku tetap anakmu, seperti dua puluh lima tahun lalu. Aku akan tetap lemah di matamu, aku akan tetap butuh peluk dan dongeng sebelum tidurku, aku akan tetap butuh badan Ibu untuk melindungiku, dan aku akan selalu butuh punggung Ibu untuk bersandar.
Tapi Ibu, aku tidak ingin lagi tangismu. Sungguh. Sebab Ibu, yang paling menyakitkan dari luka yang aku alami adalah tangis. Ya ketika Ibu harus menangis.
Akhirnya aku tidak bisa menolak ketika harus dijemput abangku sore kemarin. Sebenarnya aku dan Abang sudah sepakat untuk tidak mengabari Ibu soal aku yang mengalami kecelakaan berkendara. Kami berdua tahu betul bagaimana Ibu akan cemas, dan Bapak akan gemas melihat Ibu yang mulai berpikir macam-macam. Yang paling menjadi ketakutan baik aku, Abang dan Bapak adalah ketika Ibu mulai berpikir macam-macam beliau akan ngedrop dan jatuh sakit.
Tapi entah bagaimana istri abangku yang menerima telepon dari Ibu dengan santainya menceritakan bahwa aku mengalami kecelakaan. Seketika saja tubuhku lemas, sakit bukan lagi pada kulit yang terkoyak atau kukku kakiku yang lepas, tapi sesuatu yang kecil dan tersembunyi.
Walau aku berusaha keras memastikan aku baik-baik saja, tapi tangis Ibu tidak juga bisa segera reda. Pembicaraan di telepon yang tidak bisa jelas sebab isak tangis akhirnya terdiam cukup lama. Aku diam, aku benar saja salah tidak mengabari Ibu. Walau aku mengabari Bapak dan abangku.
Dari balik telepon yang mulai sunyi, aku samar mendengar Ibu yang menghujani Bapak dengan berbagai pertanyaan dan pernyataan, kenapa beliau tidak mengabari Ibu padahal beliau sudah aku kabari apa yang aku alami. Tentu saja aku dan Bapak sudah sepakat untuk tidak memberi tahu Ibu.
Aku curiga sebab Ibu suka sekali sinetron, sehingga bayangan akan sesuatu menjadi begitu dramatis. Aku mengalami kecelakaan berkendara sepulang kerja, terserempet mobil yang tiba-tiba belok kiri, terpental lalu beberapa bagian tubuh tergores aspal. Bayangan Ibu dari reka kejadian yang Bapak sampaikan justru membuat Ibu berpikir begitu jauh.
Aku sebenarnya baik-baik saja, luka yang aku alami dari kecelakaan ini sudah ditangani dengan baik, dan tidak begitu mengkhawatirkan. Abangku yang menjemput dan memastikan keadaanku pun sudah mati-matian meyakinkan Ibu, justru kena marah.
Begitulah Ibu, itulah orang tua. Akan selalu sama, selalu bertambah rasa kasih dan cinta untuk anak-anaknya. Aku akan selalu menjadi bayi kecilnya sampai kapan pun, hanya saja aku ingin Ibu tak selalu khawatir dan berpikir yang terlalu berlebihan jika aku sedang mengalami bagian dari risiko kehidupan.
Aku tidak ingin mendengar tangis Ibu, jika harus maka itu adalah tangis bahagia yang sampai hari ini aku belum bisa membuat tangis itu untuk Ibu.
Ibu ini aku, anakmu yang malas minum susu, yang selalu telat bangun pagi dan lupa menali sepatu sebelum mencium tanganmu saat pergi sekolah dulu. Ibu ini aku, akan selalu hidup dengan kasih sayang dan cintamu. Ibu, terima kasih untukmu.
sebagai pengingat
Wonosobo 7 September 2017
Mudjirapontur

Instagram Feed Instagram Feed Instagram Feed Instagram Feed Instagram Feed Instagram Feed

Sapa Maya

More Stories
Hai kamu begini aku sekarang