Soal Puisi: Menemukan kata pada kue lapis

Doc Pribadi Mudjirapontur

Kali ini izinkan, aku menggunakan kata ‘saya’ dalam menyusun kata demi kata yang akan aku tuliskan sebagai sebuah pertanyaan. Sangat jarang aku menyebut diriku dengan kata ganti ‘saya’ dalam blog ini, tapi entah mengapa kali ini aku merasa perlu menjadi ‘saya’.

Belakangan ini saya kembali tertarik untuk menuliskan apa saja yang seketika melintas di benak pikir. Seperti ada dorongan yang entah dari mana untuk segera menuliskan dan menyimpan dalam blog sederhana ini. Jika kebetulan kawan-kawan membaca tulisan tersebut adalah sebuah bonus yang saya dapatkan.

Tapi sebab saya mulai kranjingan menuang apa yang tanpa pemirsi bergejolak di dalam diri saya, ada pertanyaan mendasar yang menjadi kritik terhadap diri saya sebagai pribadi.

Saya terlalu berani melabeli kata-kata yang saya susun sebagai sebuah puisi. Padahal saya bukan seorang ‘penyair’ juga tidak memiliki landasan sastra yang dapat membenarkan pelabelan unyuk kata-kata saya. Dengan kata lain saya sama sekali belum dan mungkin saja tidak memahami apa itu sastra dan puisi, jika garis keabsahannya adalah landasan pada kajian sastra.

Sejak kemarin saya sangat terganggu dengan pelabelan yang saya buat untuk kata-kata saya. Jauh sebelum hari ini, semua kata-kata saya kategorikan dengan pelabelan; semacam, serupa, seperti. Pelabelan ini saya pilih sebagai penanda bahwa kata-kata yang saya rangkai menjadi satu tulisan hanya memiliki kadar kemiripan, yang sebenarnya itu pun masih sangat saya sangsikan kemiripannya.

Maka sangat berat sebenarnya ketika saya harus menambahkan kata ‘puisi’ dalam tulisan saya. Lebih berat lagi membaca komentar yang masuk dan mengamini pelabelan yang saya buat tersebut, tentu saja komentar tersebut adalah bagian apresiasi dan juga kritik yang membangun gairah saya dalam menulis. Tentu saya ucapkan banyak terimakasih.

Saya jadi teringat sebuah tulisan yang pernah saya buat ketika Film Ada Apa Dengan Cinta 2 sedang genjar tayang di bioskop. Dalam tulisan tersebut saya bertanya, benarkah saya, anda dan kita semua bisa dengan begitu mudah menjadi ‘penyair’ seperti Rangga. “Ada apa dengan anda menjadi puitis ala Rangga?” begitu pertanyaan saya. Kata anda dalam pertanyaan tersebut sejatinya juga menanyakan kepada diri saya pribadi.

Kalaupun dalam kehidupan saya, keresahan dan apa yang saya lihat dengan mata saya selalu menagih untuk menjadi sebuah kata dalam tulisan, sejatinya saya memiliki banyak pertanyaan ketika harus mempublikasikan tulisan tersebut dalam blog ini. Saya takut benar, bahwa saya telah termakan oleh pertanyaan saya sendiri, saya mencoba menjadi puitis ala Rangga. Bagaimana bisa, tentu saja bisa.

Kalaupun secara sadar atau tidak, saya sedang mengalami pengulangan satu tahapan dalam kehidupan saya; pengulangan ingin menjadi seorang penyair, yang sejak SMP dulu saya sangat tertarik dan jatuh cinta dengan puisi-puisi yang saya baca. Tapi seperti saya sampaikan di atas, bahkan melabeli tulisan saya sebagi puisi pun saya ketakutan. Apa lagi mendengar dan membaca komentar bahwa saya ‘penyair’ walau saya paham betul penyematan kata ‘penyair’ dalam diri saya adalah guyonan dan ekpresi spontan dari kawan-kawan dan pembaca.

Menyoal penyair saya teringat dengan apa yang disampaikan Emha Ainun Najib atau yang akrab di sapa Cak Nun dalam Tulisan beliau untuk 67 Tahun Iman Budhi Santosa.

“Sebutan Penyair itu sesungguhnya sekedar semacam inisial untuk memudahkan keperluan kategorisisasi sosial dalam pergaulan manusia. Semacam simplifikasi teknis yang aslinya belum tentu oleh kebudayaan manusia dijaga secara sungguh-sungguh dengan batas nilai, parameter atau kwalifikasi yang berprinsip. Di dalam budaya materialisme, kapitalisme dan industri, setiap orang yang punya biaya bisa menyusun kalimat-kalimat, mengumpulkannya menjadi sekian puluh atau sekian ratus halaman, menerbitkannya dan menamakannya Buku Kumpulan Puisi. Tidak benar-benar ada kontrol atau kritisisme terhadap fakta kwalitatif apakah itu semua puisi atau sekedar deretan kata dan kumpulan kalimat.”

“Tatkala ratusan Buku semacam itu beredar memenuhi Toko Buku dan rak-rak almari buku masyarakat, tanpa dialektika kwalitatif nilai-nilai dalam perikehidupan budaya masyarakat, pada kenyataannya sangat besar potensi yang muncul bahwa yang terbaca bukanlah puisi. Semua kumpulan kata dan susunan kalimat itu disepakati untuk dinamakan puisi sekedar karena orang-orang tidak punya kemampuan untuk menjelaskan atau membuktikan bahwa itu bukan puisi.”


Dari apa yang Cak Nun sampaikan, saya benar-benar mengalami ketakutan dan menerima banyak pertanyaan. Kebenaran yang sangat mungkin ketika saya melabeli tulisan saya sebagai puisi adalah; “Semua kumpulan kata dan susunan kalimat itu disepakati untuk dinamakan puisi sekedar karena orang-orang tidak punya kemampuan untuk menjelaskan atau membuktikan bahwa itu bukan puisi.”

Dan sialnya, siang ini saya kembali menemukan setumpuk kata ketika sepotong kue lapis digigit oleh tukang becak. Segala kata seketika berbaris rapi menjadi serakan pazle yang siap segera saya susun menjadi kalimat.

Kalaupun saya segera menunda menyusun kata-kata itu dan memilih menulis ini sembari menikmati obrolan tukang becak, nyatanya barisan kata-kata kian mendesak dan memaksa untuk berwujud dalam teks.

Saya kira begitu dulu segala pertanyaan dan keresahan yang biar menjadi penganggu, sebab saya suka itu.


29 Agustus 2017 | 12:14
Mudjirapontur

Instagram Feed Instagram Feed Instagram Feed Instagram Feed Instagram Feed Instagram Feed

Sapa Maya

More Stories
kepada tuna asmara