Goresan Baru?

Sejenak aku terdiam, dan pertanyaan-pertanyaan terus mengusik. Banyak jalan tanpa petunjuk arah, sedang aku sendiri tak tau kemana akan menuju. Rasanya memang di ujung kebimbangan, dan tak tahu kapan akan berakhir, namun goresan baru sangat bijak jika aku mulai kembali.

Akan ku biarkan luka lama dalam goresan-goresan mimpi untuk terus menjadi luka sampai maut yang kan menjemputnya pergi. Ah, kenapa terkesan kematian, bukanya ini hanya sebuah pengulangan? Seperti halnya menulis dalam lembaran kertas saat habis tentu akan mencoba menorehkan tinta dalam lembaran yang baru. Jadi, aku akan memulai goresan itu.

Goresan baru jauh telah ku mulai, sebelum posting ini ku ketikan. Seperti pada Puisi Wanti. Sesuatu yang baru, yang mungkin akan memberikan arti lebih dalam kehidupanku yang tersisa kedepan.

Goresan ini bisa jadi; tentang cinta, tentang kasih, tentang sayang, dan tentang seorang wanita. Aku lebih senang menyebutnya dalam Puisi Wanti, ya seorang gadis yang ku kenal dari ketidak sengajaan, dalam posting sebelumnya pernah sedikit ku ceritakan.

Jika sebuah perbandingan maka Puisi Wanti akan sangat jauh berbeda dengan goresan-goresan mimpi sebelumnya, jauh berbeda dengan karaker Spongebob. Puisi Wanti pendiam, lugu, lucu, oon, sedikit bodoh, nyebelin, dan dia bukan seorang wanita yang aku dambakan. Bahasa kerennya bukan tipeku.

Aku suka wanita yang periang, cerewet, mengerti, dan mau mengikuti alur hidupku, tipe ini pernah ada sebelumnya namun kandas dimakan ke egoisan ku.

Aku sama sekali belum mengerti, mengapa goresan baru ini ku biarkan terus saja mengores bagian hidupku. Aku tak merasa sakit, tak pula merasa lebih nyaman, hanya saja pikiranku yang bodoh dan perasaanku yang kehilangan kepekaanya terus saja beranggapan ada jalan yang akan bercahaya kelak dengannya.

Aku tak mengerti ada ragu namun ada keyakinan. Keraguan ini tentu bukan tanpa alasan, kegagalan tentu saja menjadi bagian menakutkan dalam menjalani goresan ini, masa lalu memang selalu saja menjadi bagian dari pertimbangan.

Dan pagi ini, berkawan album Netral, sebuah lagu sedang memenuhi gendang telingaku yang dijejali paksa “Terbang Tenggelam”. Aku mengerti memang kelemahan sebagai manusia hanyalah mampu merencanakan, sedang segala sesuatunya tetap saja menjadi keputusan final sang pencipta.

Maka tidaklah salah jika goresan ini terus mengoyak tubuhku, dan beracunkah itu aku tak peduli.


Mudjirapontur

Instagram Feed Instagram Feed Instagram Feed Instagram Feed Instagram Feed Instagram Feed

Sapa Maya

More Stories
Hari bersamamu