Aku adalah kata yang tak kau inginkan

QWERTY

Aku hilang. Kata-kataku tenggelam kuterasingkan. Sudah hilang pula seleraku menjadi genderang.

Enyahlah kau suci pada kata ambruk pada makna dan segala tawa yang abai kepada kata-kata yang aku lahirkan.

Aku adalah kata pada ketikan, jika itu perwakilan sebuah kehadiran di era maya. Tapi aku bukanlah kata yang bisa diajak bicara, atau aku yang tak bisa mengajakmu untuk bicara.

Ini kali entah berapa aku sudah mencoba. Dan hasil selalu sama. Aku adalah kata yang ingin beranakpinak, melayang dalam layar genggammu. Menjadi kawan bicara walau tanpa suara untukmu.

Aku adalah keresahan dari tanya yang menahun atas setiap gurau candamu yang lalu hening atas hadirnya aku. Begitu menyebalkankah teks yang lahir sebagai kata untukmu?

Aku adalah kata dalam teks, ia sama dengan jiwa pemiliknya. Ingin menjadi kawan juga menjadi lawan bicara. Ia ingin bersua, menjadi manja dan saling menyapa tanya. Apakah sua dan tanya dalam teks tak lagi seperti inginmu? Berbedakah ia dalam barisan tulisan yang mengisi ruang obrolanmu?

Aku adalah kata dalam keterasingan yang bising. Kata yang memaksa tetap ada dan membaca walau tak tahu mengapa ia ada. Bukankah ia sebenarnya tidak pernah dirasa ada? Lalu mengapa ia masih di sana? Menjadi pembaca? Sejatinya tak mengapa, sebab kata hanya ingin bersua.

Dan. Aku adalah kata dalam ruang pembicaraan, menjadi pembaca dalam kebingungan, bertanya tanpa jawaban, menjawab tanpa pertanyaan. Aku adalah kata yang mati terasing di ruang penuh kata-kata. Apakah kata-kataku akan mati muda? Biar ia menua dan cukupkan saja tetap sebagai pembaca.

24 Agustus 2017 | Sorowajan Yogya, 19:30
Mudjirapontur

Latest posts by ryanarirap (see all)
Instagram Feed Instagram Feed Instagram Feed Instagram Feed Instagram Feed Instagram Feed

Sapa Maya

More Stories
memuisikan puisi Aksaramu suaraku
Puisi: Aksaraku Suaramu – Musa