Hai tetangga mengapa kau tega : Soal Bendera

SC: G Image fru

Hai tetangga, sudah berapa purnama kita nikmati bersama.
Sudah jadi satu sebenarnya kita punya rasa.
Tapi mengapa kita masih saja enggan jadi dewasa.
Dan kau lebih sering memulai mencari perkara.

Hai tetangga, apa ada anakku yang melukai hatimu.
Sehingga anak-anakmu begitu tega membuat aku malu.
Atau sebenarnya kau sendiri yang merancang semua itu.
Ah, apa kau lupa dulu kau itu benalu.

Hai tetangga, bukankah senang kau sekarang.
Melihat anak-anakku menambuh genderang perang.
Dan kau seolah siap sedia melayani untuk menyerang.
Apa kau lupa, dulu aku yang membuat anakmu tetap kenyang.

Hem, entahlah aku benar tak bisa lagi berkata.
Terlalu sulit aku mencerna kau punya selera.
Padahal bahasa tak lagi menjadi pemisah di antara kita.
Mungkin memang kau selalu ingin bermain bara.

Kepadamu tetanggaku, ku maafkan segala khilafmu.
Ku cukupkan apa yang menjadi inginmu.
Tapi pintaku tetap satu, sudahi kebodohan itu.

-Hai Tetangga
Indonesia 23 Agustus 2017
Mudjirapontur

Maaf harus aku mulai dengan sebuah puisi. Agar kamu, dia juga mereka tak lagi merasa ada yang kurang dalam postingan ini. 😊

Sejak awal mula aku tidak tertarik. Namun ketika siang ini membaca beberapa postingan yang membahas seteru bendera terbalik, entah mengapa aku jadi tergelitik.

Dua hari sebelumnya driver, satpam dan office boy di kantor juga tak kalah asik melempar tema bendera terbalik. Sebab aku kurang update dan hanya sempat tahu dari link berita yang masuk di grup whatsapp maka jadilah aku pendengar yang baik.

Tapi ketika hari ini aku kembali coba mengulik. Rupanya perkara ini tidak bisa dianggap sepele seperti halnya ketika aku salah ketik. Salah ketik atau typo itu bisa terjadi dan jamak hukumnya, dan itu bisa berbahaya sebab ada beda makna nantinya.

Nah, apalagi yang salah bukan ketik, tapi sebuah gambar, sebuah design. Boleh saja dikata tidak sengaja, sebab manusia memang tempatnya salah dan lupa. Tapi ini sebuah bendera, yang menjadi identitas bangsa. Oh tetangga mengapa kau tega.

Membaca berita dengan segala judulnya yang mulai menjadi bara, aku sedikit terbakar. Lebih lagi ketika aku mencoba melihat mereka yang menaruh komentar, hati menjadi berdebar, ingin sekali aku segera keluar dan ganyang itu tetangga punya pagar.

Tapi aku kemudian tersadar. Indonesia bangsa yang besar. Keruwetan di dalam rumah sendiri pun masih banyak tersebar. Kadang memang kita bisa bersatu padu ketika tetangga membuat onar. Setidaknya ulah tetangga membalik bendera membuat kita kembali bersama mencintai Indonesia, tanpa ada pembeda.

Sebagai warga negara yang baik, aku merasa marah tentu saja. Tapi aku mencoba menahan diri untuk bersumpah serapah di lini masa. Bukan sebab tak cinta, tapi aku tahu Indonesia memahami tetangga kita yang memang kadang tidak dewasa.

Tetangga kita yang suka manja kalau bersuara, sebenarnya sudah kita terima dengan lapang dada segala yang dia cipta. Seperti kartun mereka Upin dan Ipin, sudah berapa lama dia terus berbahasa Malaysia di tivi yang kita konsumsi bersama.

Melalui tontonan anak yang aku juga suka, tentangga kita sudah merasuki satu budaya dan bahasa. Keponakanku saja sudah fasih betul mengucap bahasa Upin dan Ipin β€œbetul, betul, betul”. Dan kita masih berbaik sangka, memang mereka ingin menghibur kita.

Tapi ada Susanti di dalam cerita Upin dan Ipin. Yang ketika berbicara seperti begitu kesulitan, juga terbata. Dengan adanya kejadian ini, andai kata Susanti sudah besar, akan aku minta dia segera keluar. Tinggakan saja Upin & Ipin dan Kawan-kawan itu, kembali ke Indonesia negerimu, nanti ikut ambil peran di Adit Sopo Jarwo siapa tahu kamu laku. Atau berjuang dengan Si Unyil yang sudah terkucil di negeri sendiri. Tapi Susanti tetaplah Susanti. Dia berhak menentukan nasibnya sendiri.

Maka tetangga, aku anggap kau sudah tahu batasannya bagaimana berkeluarga sebagai negara dan bertetangga. Mari menjadi tetangga yang baik. Jangan lagi kau bikin terbalik, bukan hanya bendera tapi apa saja yang pernah kamu ambil paksa dan buat fakta berbeda.

Dan tidak lupa, aku ucapkan terimakasih atas keberanianmu membalik pusaka negaraku, sebab karena itu rakyat kembali bersatu. Tapi ingat, kalau rakyat sudah marah penguasa hanya bisa pasrah. Maka bisa terjadi pertumpahan darah. Semoga tidak demikian.

Salam

Mudjirapontur.

Instagram Feed Instagram Feed Instagram Feed Instagram Feed Instagram Feed Instagram Feed

Sapa Maya

More Stories
memuisikan puisi pulang
Puisi Pulang – Ronnia Mukharomah