​Aku jujur maka aku cinta

Doc: Pribadi

Aku gabung dalam sebuah grup Whatsaap, obrolin namanya. Tadi malam seperti biasa ada jadwal diskusi, dan tema kali ini adalah mencintai diri sendiri. Aku mencoba mengikuti dan mendapatkan banyak pembelajaran dari sana.

Beberapa kali aku ingin melempar tanya atau menambah referensi jawaban dari apa yang ada di kepalaku, tapi urung. Pertama aku memang tidak terlalu pandai mengelola pembicaraan dalam teks apalagi dalam sebuah grup diskusi digital. Kedua seperti biasa kadang pertanyaan yang aku keluhkan dan juga jawaban yang aku berikan lebih sering tidak nyambung dengan tema atau arah pembicaraan, entah karena memang aku yang terlalu meleceng atau memang aku belum bisa sepaham. Entahlah.

Seperti kamu tahu, aku tidak pandai membuat sebuah artikel, opini, apa lagi skripsi. Maka sebelum melanjutkan membaca harap dimaklumi terlebih dahulu keruwetan dalam aku menuliskan ini.

Mencintai diri sendiri, bagaimana caranya? Bagiku adalah dengan ‘jujur’ kepada diri sendiri. Kalimat ini juga aku sampaikan dalam grup diskusi, tapi sayang dia tenggelam oleh keramaian teks yang masuk. Tak apa.

Sebab pertanyaanku tenggelam dalam grup, maka sebelum jam makan siang tadi aku coba lempar pertanyaan yang sama ke beberapa teman baik langsung maupun melalui pesan singkat. Dan dari beberapa jawaban, rupanya ‘jujur’ memang menjadi salah satu cara yang dipilih untuk mencintai diri sendiri.

Jujur untuk mencintai diri sendiri. Seperti jelas pada judul yang aku pilih. Lantas seperti apa ‘jujur’ yang dimaksudkan itu? Baik mari kita coba urai apa yang ada di kepalaku. Pelan-pelan saja.

1. Jujur bahwa aku tidak sempurna.

Apa kamu pernah mendengar sebuah kalimat; “tidak ada manusia yang sempurna” jika pernah berati kita sama. Aku sering kali mendengar kalimat itu, dan nyatanya aku justru tertarik dengan kalimat itu, walau terkadang hanya digunakan untuk membesarkan diri sendiri agar merasa lebih tenang.

Aku tidak sempurna. Tentu saja. Siapa yang bisa mengatakan dirinya sempurna, apakah kamu? Jika iya maka kamu beruntung memiliki percaya diri yang berlebih, tapi hati-hati saat realita menghampiri.

Kenyataan bahwa aku tidak sempurna dan banyak hal yang coba aku kejar dalam hidup untuk menyempurnakan diriku adalah benar adanya. Aku sering menuntut diri ini untuk tampil sempurna, mencari-cari cara untuk menutupi kekurangan agar selalu terlihat sempurna.

Begini, ketika aku melakukan itu secara tidak sadar aku sedang berbohong pada diriku sendiri, juga pada kamu, dia dan mereka. Aku menjadi aku yang bukan aku. Aku menjadi aku yang ada dalam imajinasiku, tentu saja sah dan tidak salah.

Tapi, berjalannya waktu aku lebih banyak mencoba untuk ‘jujur’ pada diri sendiri bahwa aku tidak sempurna. Sebab dengan begitu aku menjadi lebih banyak tahu tentang diriku, dan tentunya aku menjadi bisa belajar mencintai segala yang ada dalam diri ini, termasuk ke tidak sempurnaan yang aku miliki.

2. Jujur bahwa aku punya pikiran negatif.

Sebagai manusia, tentu saja ada dua sisi yang tertanam dan tumbuh dalam diriku. Salah satu yang sering kali lebih subur adalah sisi negatif.

Sama halnya dalam cara berpikir, kadang aku lebih sering memikirkan hal negatif; entah sebagai bentuk kewaspadaan, ketakutan, curiga atau hal lain.

Maka aku harus jujur pada diriku sendiri ketika aku sedang dilanda pikiran negatif. Aku harus bisa berkomunikasi dengan diriku sendiri, bahwa ini perlu atau tidak perlu; waspada itu perlu tapi berlebihan dalam menyikapi sesuatu juga tidak baik.

Sebab aku mencintai diriku sendiri, maka aku harus kompromi ketika mulai berpikir negatif, sehingga bisa mengelola pikiran negatif tersebut ke arah yang lebih baik atau bisa disebut pikiran yang positif.

Bagaimana bisa, tentu saja bisa. Baik aku, kamu, dia dan mereka pasti pernah mengalaminya.

3. Jujur bahwa pilihanku tidak tepat.

Setiap tahapan kehidupan mengajari aku untuk menentukan pilihan, begitu juga dengan kamu tentunya. Nah, dalam menentukan pilihan ini aku sering kali berada pada pilihan yang tidak tepat. Misal; aku salah mengambil jurusan kuliah, aku salah mengambil kesempatan kerja, aku salah menentukan usaha, dan banyak lagi.

Lalu apa yang bisa aku lakukan setela berada pada posisi yang tidak tepat atau bisa aku sebut salah. Apa aku harus kembali membuat pilihan, atau mencoba pilihan yang belum aku ambil, tentu tidak semudah itu.

Maka yang aku lakukan pertama kali adalah aku berkata jujur kepada diriku sendiri bahwa aku salah menentukan pilihan dan sedang berada di pilihan yang tidak tepat atau tidak sesuai dengan diriku. Aku perlu ngobrol mendalam dengan diriku sendiri, ya semacam monolog mungkin.

Ketika seluruh obrolan sudah tercurah dan kemungkinan sudah menjadi lebih mungkin, maka aku mencoba meyakinkan bahwa pilihan ini akan menjadi baik walau aku salah memilihnya. Dengan aku jujur seperti itu, maka ketika terjadi sesuatu dalam pilihanku setidaknya aku sudah tahu sedari awal dan siap sedia.

Selanjutnya yang perlu dilakukan adalah menikmati pilihan setelah menyatakan kejujuran kepada diri sendiri. Yang pasti, dari pilihan-pilihan yang tidak tepat itu ada pilihan yang aku berdoa agar selalu tepat yaitu; pilihanku mengagumimu.


Entah aku salah dalam memilih kata, tapi ‘jujur’ adalah sebuah kata yang aku pilih untuk mencintai diri sendiri.

Sebab tanpa kejujuran apa yang tersisa dari sebuah perjalanan, apa akan terus melanjutkan hidup dalam kubangan kebohongan, pada diri sendiri lagi. Hehehe.

Sudahlah, aku juga harus jujur bahwa baru tiga itu yang bisa dan sudah terbiasa aku lakukan kepada diriku. Tentu saja aku tidak berani memberimu banyak cerita dari apa yang aku belum coba cicipi rasanya.

Kalau kamu merasa benar adanya, maka tidak sia-sia aku menulis dan kamu membaca. Jika merasa tidak sesuai dengan yang kamu rasa, ya wajar saja setiap kita punya pengalaman dan caranya dalam mencinta.

Mudjirapontur

Instagram Feed Instagram Feed Instagram Feed Instagram Feed Instagram Feed Instagram Feed

Sapa Maya

More Stories
Puisi: Aku terjang sekali lagi