Arko jadilah apa saja yang penting bahagia.

Arko

Salah satu rutinitas setiap pulang ke rumah adalah memandikan Arko. Arko adalah kucing hitam belang putih, peranakan kucing kampung dengan kucing persia, tapi gen kampung lebih mendominasi jadilah dia seekor kucing lelaki yang begitu gagah berani dan tahan banting.

Kemarin dibantu keponakanku Nanda yang baru akan berusia empat tahun bulan depan aku memandikan Arko. Entah kenapa Arko tidak sepeti biasanya, dia tiba-tiba saja meronta dan langsung menempelkan kedua kaki depannya di kepala dan jidat Nanda. Nanda yang terkejut dan takut langsung mundur, dan benar saja kuku Arko yang belum sempat aku potong melukai jidat Nanda. Sontak dia menangis, tapi tak lama.

Selanjutnya Arko kembali diam, seperti biasanya dia suka dengan air. Nanda kemudian kembali asik bermain busa sabun Arko.

Sebenarnya aku tidak terfikir untuk menuliskan rutinitas memandikan Arko. Tapi entah mengapa aku ingin, bercerita tentang Arko.

Arko, dia lahir di Jogja, bersama ibunya yang aku berinama Arfi, kemudian diboyong oleh kakaku ke rumah (rumah orang tua kami) sebab Nanda sedari kecil sangat suka bermain kucing, sejak dia lahir di Kalimantan Selatan (rumah orang tua kami juga yang sekarang keduanya masih tinggal di sana).

Dari Jogja dengan suhu udara yang cukup panas, beralih ke Wonosobo yang bersuhu udara dingin Arko dan Arfi cukup berat dalam proses adaptasi. Di minggu-minggu pertama sempat rontok bulu mereka, dan setiap malam harus kami buatkan api unggun kecil dari arang untuk menghangatkan. Tapi lama kelamaan Arko justru lebih suka tiduran di lantai yang dingin, sedang ibunya tetap enggan keluar dari sangkar yang kami buat dari handuk bekas dan dekat perapian.

Pertumbuhan Arko tergolong lebih cepat dari usianya. Belum genap enam bulan dia sudah begitu besar, bulet dan gendut untuk ukuran kucing peranakan. Sayangnya dia masih kesulitan untuk mengeong, dia seperti tidak punya suara β€œmeong” sebagai ciri seekor kucing. Sura β€œmeong” Arko tergolong aneh bahkan aku saja kesulitan untuk mengambarkan suara itu dalam tulisan.

Selain itu dia tidak mau membaur dengan kucing lain, baik sebaya maupun yang lebih dewasa. Dia hanya mengenal Arfi ibunya. 

Jika Arfi kami izinkan untuk bermain di luar rumah, Arko memang di awal-awal tidak kami izinkan, maklum saja kami takut Arko kesrempet kendaraan yang lalu lalang sebab rumah kami di dekat jalan desa yang cukup ramai.

Tapi ketika kami mulai sering mengajak Arko keluar, dia tetap membuntuti kami, entah itu keluar dengan Nanda atau denganku. Dia tidak suka dengan kucing lain. Kalaupun ada yang mendekat dia cuek. Tapi lucunya dia sesekali kami dapati bermain dengan anjing tetangga. Bahkan Arko begitu dekat dengan Kancil nama anjing tetangga kami.

Dan sampai ketika aku menuliskan ini, Arko masih tidak suka bermain dengan kucing kecuali Arfi. Tapi lebih sering bermain dengan Ayam, Anjing atau hewan lain, termasuk kelinci milik Nanda.

Arko kau boleh jadi apa saja, berteman dengan siapa saja asal kau bahagia.

Arko boleh aku bertanya, apa kau malu bermain dengan kucing, sebab kau tidak bisa mengeong dengan sempurna? Ah entahlah, kau memang istimewa seperti pemiliknya. 🍻

Latest posts by ryanarirap (see all)
Instagram Feed Instagram Feed Instagram Feed Instagram Feed Instagram Feed

Sapa Maya

More Stories
Mungkin aku cemburu