​Obrolan Senja di Kereta Malam

Jakarta cukup dingin ketika aku menolak untuk tidur, sebab jam menunjukkan angka 4:47 sedang jam 10:15 aku sudah harus berada di atas kereta dan siap melaju ke Jogja. Tapi jangan kira aku kemudian terjaga, tidak. Aku terlalu lelah, aku tertidur walau tidak pulas.  Lalu bangun segera ketika jam 8:00 alarm di telepon genggamku berbunyi. Segera bersiap dan bergegas ke stasiun Pasar Senen.

Aku menginap di kos temanku, dan membawa dua buku milik temanku tersebut. Orang-orang Sisilia bagian 1 dan 2, itu buku yang kemudian menemani perjalananku. Tentu saja paragraf ini tidak menjadi paragraf pembuka yang baik ketika aku bercerita, tapi tak apa.

Kereta Gaya Baru Malam Selatan, itu nama kereta yang aku sudah genggam tiketnya. Walau nama keretanya Gaya Baru Malam Selatan, nyatanya dia berangkat di pagi dan siang hari juga. Aku berada di gerbong ekonomi kereta 1, pada kursi no 21 D.

Kursi di sampingku 21 E seorang perempuan, tujuannya sama denganku, dia mahasiswi semester akhir di salah satu universitas di Jogja. Tepat di depanku kursi no 22 D kosong, benar-benar tidak ada yang mengisi sampai aku tiba di Jogja. Di samping kursi kosong itu, kursi no 22 E seorang pemuda yang ingin mudik untuk merayakan 17 Agustus di kampung halamannya, di Jombang sana. 

Dalam tulisanku ini aku tidak akan bercerita banyak tentang aku, mahasiswi di sampingku, atau lelaki pecinta burung di depan kanan ku. Yang menjadi dan menarik perhatianku justru kursi di seberang deretan kursi kami.  4 Kursi yang berhadapan di kursi 21 A, 22 A, 21 B, 22 B. Mereka berisi orang tua, ya usia lanjut yang kemudian langsung menjadi begitu akrab. Dari orbrolan mereka berempat aku menemukan dan belajar banyak hal.

Tentu saja aku tidak akan menuliskan detail percakapan antara mereka, boleh jadi aku hanya akan menuliskan sebagai sebuah rangkuman yang aku coba curi dengar selama perjalanan dan masih melekat dalam ingatan ketika aku menulis ini.

Ketakutan Menjadi Tua

“Siapa yang tidak takut menjadi tua, kalah kepada dingin” Ucap lelaki tua berjaket Hitam di kursi 21 B.

“Siapa yang bisa menolak hidup pak” Jawab Wanita tua di sampingnya Kursi 21 A.

Ya, siapa yang tidak takut menjadi tua? Aku. Aku sangat takut, aku ketakutan sendiri jika membayangkan kelak aku menua dan tak lagi bisa berbuat apa-apa. Tidak lagi lincah bergerak, tidak lagi bisa mengekspresikan kehendak diri, bahkan mungkin tidak lagi bisa mengurus diri sendiri. Aku takut, sangat takut. Beberapa kawanku pun memiliki ketakutan serupa tentang tua.

Aku kira lelaki tua berjaket hitam itu benar. Walau dia kini sudah sampai pada usia dan tubuh yang menua, dia masih memiliki ketakutan menjadi tua, mungkin lebih tua lagi dari usia dan tubuh tua yang sekarang.

Tapi, siapa yang bisa menolak hidup? Aku kira ini juga jawaban dari pertanyaan dan ketakutanku tentang kelak ketika aku menua. Bukankah aku tidak bisa menolak hidup? Dan sebenarnya yang berjalan adalah kehidupan, bukan waktu. Aku tidak bisa melarang kulitku untuk mulai mengeriput, begitu juga seluruh organ lainnya ketika mulai merasa lelah sebab tua.

Tapi itulah makna hidup, dia berlangsung, terus dan terus dia tidak berhenti pada satu titik dia bergerak. Aku, hidup, aku perlu oksigen, tapi ok pula yang menjadikan aku kelak menua dan tiada. Tentu saja paradoks.

Lalu bagaimana? Apakah kita harus menua sebab tak bisa menolak hidup? Ada sebagian yang merasa bahwa menua adalah sesuatu yang sengsara. Tapi lebih sengsara lagi mungkin ketika kita menua masih banyak meninggalkan pekerjaan yang harusnya selesai di masa muda.

Aku tidak akan menolak hidup, waktu akan terus tetap dan ada, yang berlangsung adalah aku, aku yang akan berlangsung dari ada menuju tiada. Waktu dia tetap, dia sama, dia tak berubah. Maka aku tidak harus menghitung umur sebenarnya, tapi menghitung kemampuan fungsi tubuhku, tapi sebab kemampuan menghitung ada dalam diri kita, bolehlah menjadikan umur sebagai patokan menuanya badan kita.

Menua adalah anugerah

“Menua itu anugerah sebab muda tidak selalu menjadikan kita mudah” Ucap lelaki tua yang tepat di hadapan lelaki tua berjaket hitam itu.

Aku sepakat, menua memang sebuah anugerah. Bagaimanapun kehidupan adalah keberlangsungan dari awal mulai penciptaan sampai akhir ketiadaan. Maka ketika menjadi tua dan kemudian mati, memang begitulah prosesnya. Walau kematian tidak suka dan sudi memandang usia.

Menjadi tua, dan tidak lagi kuat melakukan aktivitas-aktivitas berat memang sedikit banyak menjadikan kita kecewa. Tapi, menjadi tua juga menjadikan kita lebih matang, lebih banyak pelajaran yang sudah kita ambil dan selesaikan, pengalaman yang mampu dibagikan kepada mereka yang muda. Menjadi tua itu anugerah dan kewajiban menjaga generasi selanjutnya mendapatkan pengalaman yang lebih baik.

Sebab menjadi muda pun tidak menjadikan kita mudah. Masa muda adalah masa di mana segalanya terasa bisa, diri masih emosi, segalanya masih sesuka dan kehendak hati sendiri, masih labil, pertimbangannya belum stabil. Banyak lubang dan jurang yang kadang menjadikan tersesat, menangis, merasa sendiri,  ketakutan. Tidak mudah, sungguh tidak mudah.

Menjadi tua sebab pernah muda

“kita merasa ingin menjadi muda kembali, sebab kita sudah pernah melalui itu, sehingga tahu apa yang harus dan tidak harus kita lakukan di masa itu” Ucap perempuan di samping lelaki berbaju batik.

Perempuan tua itu, mengejutkanku. Aku langsung pasang pendengaran ekstra. Benar sekali, mengapa setelah tua menganggap usia muda itu mudah dan menyenangkan, sebab mereka telah melalui. Sudah merasa pahit, asem, asin, pedas dan segala rasa di masa muda.

Maka ketika mereka mulai menua mereka akan merasa bahwa usia muda itu sangat menyenangkan dan mudah menjalaninya. Tapi ketika dulu mereka di usia muda, ketika berada di masanya mereka juga mengalami kesulitan-kesulitan hidup seperti halnya aku di usia mudaku sekarang. Semua terasa mudah sebab sudah pernah dan menjadi catatan kehidupan dalam bingkai pengalaman dan kenangan.

Seperti halnya aku menganggap; kuliah itu mudah saja, bisa cepat selesai, mengerjakan skripsi itu ah hanya seperti itu, karena posisiku sekarang sudah selesai menjalani tahapan kuliah. Tapi ketika dulu aku masih kuliah? Nyatanya hampir saja aku abadi mengerjakan skripsi.

Pengalaman itu kunci

Selanjutnya yang banyak bisa aku catat dari obrolan mereka adalah pengalaman dan perjalanan hidup mereka. Mulai dari ketika mereka sekolah, kuliah dan kerja. Bagaimana mereka juga pernah gagal dalam mencapai sesuatu, seperti gagal tes masuk Pegawai Negeri Sipil, tes masuk kuliah, juga merasa begitu ketakutan ketika secara usia mereka sudah tertarik dengan lawan jenis dan ingin menikah. 

Cerita-cerita yang mengalir semasa mereka muda sangat menarik, dan sering kali membuat aku tersenyum. Dan dari setiap cerita  itu ada akhir yang bisa aku bilang memuaskan tentang pencapaian mereka saat ini. Tentang menikmati dan mensyukuri usia senja mereka.

“Tidak ada lagi pencarian duniawi, rida ilahi dan ketenangan yang menjadi pekerjaan kita sekarang” Begitu ucap lelaki berjaket hitam.

Dari orberolan mereka, yang menarik adalah ketika ternyata mereka sama-sama ingin bernostalgia merasakan seperti apa naik kereta. Sudah lama sekali mereka terbiasa di rumah, atau bepergian di antar jemput anaknya dengan Moeda transportasi yang lebih cepat dan lebih nyaman.

“semoga anakku tidak marah, ini kejutan buat dia, aku naik kereta ke rumahnya” ucap lelaki berbaju batik yang dari ceritanya aku tahu anaknya bertugas sebagai dokter Rumah Sakit Umum di Klaten.

“Sama pak, semoga anakku juga nggak marah” Ucap yang lain.

Aku geli mendengar ketakutan mereka tentang anak mereka. Ya jelas sebagai anak kita khawatir dengan orang tua, apa lagi ketika harus menempuh perjalanan jauh dan sendirian pula. Tapi seperti apapun, aku baru mengerti hari ini, kenapa ibuku sering sekali tiba-tiba datang berkunjung, itu sebab yang sama dengan keempat orang tua di atas. Sebab rindu, dan ingin bernostalgia.

Aku tentu saja berterimakasih kepada PT Kereta Api Indonesia, yang entah bagaimana bisa menyatukan keempat orang tua itu dalam satu gerbong dan saling berdamping dan berhadapan, walau kota tujuan dan pemberhentian mereka berbeda-beda.

Aku turun di Jogja, dan kusampaikan terimakasih kepada mereka. Aku rasa perlu, mereka tertawa, juga bingung karena aku mencuri dengar dari cerita mereka. “Jangan takut menua ya mas” Ucap salah satu dari mereka.

Ya aku tak takut menua, sebab aku masih muda, masih bisa aku merencana masa tua, semoga terlaksana sesuai rencana.

Latest posts by ryanarirap (see all)
Instagram Feed Instagram Feed Instagram Feed Instagram Feed Instagram Feed Instagram Feed

Sapa Maya

More Stories
Selamat Merdeka dari Kenangan #HutRI72