Pertemuan singkat dan keluh kesah

Sudah menjadi niat bersama, kami akhirnya memutuskan untuk bertemu malam itu. Tentu saja di malam terakhir perjalananku di Jakarta. Sebab malam-malam sebelumnya adalah malam bersama team kerjaku. Sebagai gambran aku bekerja di area 3 dan seorang diri. Begitu juga kawan-kawan yang lain. Dan pertemuan dengan team kerja ini adalah kali pertama, jika tidak berkhianat keinginanku nanti akan aku ceritakan juga.

Baik. Malam itu kami bertemu. Kami di sini adalah kawan sewaktu training kerja. Kami dipertemukan pada saat training selama 11 hari dan banyak sekali cerita, dan lagi aku belum sempat menjadikan rangkaian cerita itu dalam tulisan.

Aku hubungi Nanto juga Ayu yang berada di area kerja Jakarta mereka beda team denganku. Richa satu team denganku, sedang Jessica berada di Medan dengan team yang berbeda juga.

Malam itu aku, Richa, Nanto dan Ayu bertemu. Singkat. Tapi sarat makna. Aku lebih banyak bertukar cerita dengan Nanto. Mulai dari uang bulanan kami yang sudah menipis dan mulai pusing memikirkan persedian untuk pengeluaran bulan ini, kepindahan kos ku dan banyak lagi.

Aku banyak berkeluh kesah. Tidak apa, bukan tanpa sebab. Memang berat memulai pekerjaan baru dengan dunia yang sangat jauh berbeda dengan pekerjaanku sebelumnya. Nanto yang lebih muda dariku dan sudah melalang buana di Ibu Kota sejak ia merantau dari Bangka Belitung pun mengalami hal yang sama. Tapi tak mengapa, kami masih memiliki harapan, sebab itu yang kami perjuangkan. Harapan jangan sampai hilang, maka rintangan akan dengan sendirinya terselesaikan.

Aku salut dengan Nanto, Ayu dan Richa juga Jessica. Mereka memiliki mimpi besar untuk hidup. Sebuah mimpi yang jika aku boleh jujur telah dan pernah aku tulis lima tahun lalu. Mimpi yang akhirnya aku khianati. Tapi sebab perkenalanku dengan mereka aku kembali yakin, mimpi itu masih dan akan berlipat ganda menjadi ada kembali.

Nanto, aku percaya ia punya segudang kemampuan yang tak aku punya. Suaranya menjanjikan aku untuk mendengarkan setiap nyanyiannya. Sudah jauh ia menekuni bidang tarik suara, walau ia bekerja ke sana ke mari dan akhirnya aku dan dia dipertemukan di perusahaan yang sama. Dia sama sekali tidak merehatkan cita-citanya, dia terus melaju dan mengejar itu. Kursus salah satu bukti dia benar-benar tidak setengah hati untuk mimpinya. Aku bangga, dan aku percaya kepada orang yang memiliki konsistensi mengerjar mimpi.

Ayu, ah untuk satu nama ini. Aku kira dia lebih dari yang aku duga. Pembawaannya tenang, tipe pendidik dan pengajar. Aku tak sedikitpun ragu jika kelak dia benar-benar menjadi dosen seperti apa yang dia cita-citakan. Aku yakin dia seorang dosen yang baik, cara menyanpaikan sesuatu begitu teratur dan rapi, lebih lagi suaranya itu, ya suaranya begitu menenangkan.

Richa, walau aku tidak tahu banyak rencana ke depan yang sedang dirancang Richa tapi dia adalah antitesis dari apa yang aku coba baca. Richa seorang yang memiliki banyak kelebihan, lingkaran pertemanan Richa begitu menyenangkan dan dia bisa dan selalu hadir sebagai pusat perhatian. Jika dia pernah mengatakan ingin menjadi seorang trainer aku yakin cita-cita itu tidak perlu waktu lama untuk dia bisa memilikinya.

Jessica. Dia masih muda, yang paling muda di antara kami. Namun cara berfikirnya jauh dari usianya. Seorang yang taat walau mudah galau. Seorang yang iklas walau kadang mengungkit kenangan. Aku memikiki keyakinan akan cita-citanya, salah satunya sama seperti Nanto di bidang tarik suara. Aku yakin Jessica bisa. Dan bahwa dia punya mimpi menjadi Manajer Regional tentu saja bisa dan aku percaya.

Malam itu. Obrolanku tidak bisa lama. Banyak hal yang ingin aku dengar dan tanya sayangnya memang kadang kita harus bisa adil untuk membagi pertemuan.

Aku pamit melanjutkan pertemuan yang lain. Bukan sebab sok sibuk, tapi segala kesempatan harus dijadikan kenyataan. Malam itu dari Nanto aku sedikit terbuka dan mengerti seperti apa aku di mata orang-orang baru, seperti apa penbawaan lahir sikapku.

Aku masih ingin bersua. Juka menulis banyak cerita. Tentu berkeluh kesah. Tapi sudahi dulu. Sampai bertemu lagi sobat. Ingat kelak ketika semua mimpi sudah menjadi, dan kita mulai menua nanti, ingatlah bahwa pernah ada hari ini yang mempertemukan kita di sini.

Jakarta 13 Agustus 2017

Instagram Feed Instagram Feed Instagram Feed Instagram Feed Instagram Feed Instagram Feed

Sapa Maya

More Stories
Pulang