Syam Sebuah Perjalanan

Syam Sebuah Perjalanan
Lima Tahun Sudah
Pagi yang biasa, yang tak pernah sama dengan pagi-pagi sebelumnya hanya saja sebagai manusia biasa yang selalu merasa adanya pengulangan yang disebut waktu dalam satuan minggu hari ini adalah pengulangan untuk hitungan mengawali minggu ke dua dari bulan ke enam di tahun ke tiga belas atas nama tahun dua ribu.
Hari ini semua kejadian yang menyertai hidupku selama pengurangan lima tahun kebelakang dimulai. Akhirnya sampai juga saatnya aku menyadarkan diri untuk benar-benar sadar di atas kesadaran, untuk bangun dari mimpi-mimpi saat aku tak lagi bermimpi, untuk menjalani jalan yang tak kulalui dan memaksakan untuk melihat kedepan dengan arah kompas kebelakang.
Lima tahun lamanya aku telah mati, terkubur dalam makam kehidupan, mencari arah yang benar untuk membenarkan sebuah kesalahan. Dan rasanya memang benar tak ada pembenaran akan sebuah kesalahan hanya saja manusia sepertiku menganggap diri lebih mengerti dan membenarkan apa yang bisa kujalani, yang mengalir kedalam darah dan waktuku untuk melawan yang digariskan dalam aturan Tuhan.
Dan saat aku harus menelan pahit kenyataan bahwa kebenaran akan kuasa sang pencipta tak mampu dibendung oleh keegoisan mahluk, baru aku mengerti bahwa sesal diri untuk apa yang telah terjadi sangat tiada berarti. Namun, seperti kutukan aku seakan ingin terus melawan pembagkangan ini, entah dari mana asal muaranya hanya saja kesalahan bagiku tetap menjadi pembenaran yang meruncing dan hanya berlaku untuk diriku sendiri.
Seperti halnya manusia yang percaya adanya hari setelah hari ini dan adanya kehidupan setelah kehidupan dunia ini, aku juga bagian dari manusia itu yang percaya akan keberadaan yang belum kulihat ada. Aku percaya akan pembangkitan setelah kematian, aku percaya akan penimbangan amal perbuatan, aku percaya akan ganjaran surga dan neraka dan kepercayaanku bukan semata keturunan dan budaya dari ajaran turun-temurun yang memaksaku untuk percaya dalam bingkai agama.
Sekalipun lima tahun sebelum ini aku adalah seorang ateis yang beragama, yang dalam agamaku membenarkan manusia untuk berbuat baik, taat kepada sang pencipta, menjalankan perintah dan menjauhi larangannya, namun saat itu aku adalah ateis, yang sama sekali tak menganggap Tuhan itu ada.
Sombong dan mencari pembenaran akan apa yang kujalani, entah itu salah entah itu benar bagiku semua itu hanya akan mengalir dalam waktuku menghabiskan usiaku yang aku menyebutnya ketahanan diri.
Dan aku adalah ateis yang payah, yang sesekali masih berdoa untuk sesuatu yang aku tak percaya. Bergentayangan dalam temaram cahaya kesesatan bagi orang lain yang melihatku, banyak diantara mereka yang memposisikan diri sebagai manusia suci menyoroti setiap langkah menghitung mundur dari setiap gerak inci tubuhku seakan memberikan rambu kebenaran yang bagi sebagian besar manusia itu adalah benar.
Namun aku bukan jamaah yang baik, yang mengiyakan setiap keputusan orang kebanyakan, aku dan keegoisanku mencari jalan yang bagiku itu aku dan kalaupun salah aku hanya seorang diri untuk mempertangungjawabkan itu tak ada orang lain yang kuseret serta untuk masuk kejalanku. Sekalipun ada seorang manusia yang bagiku tulang rusukku yang kemudian semakin membuatku larut dalam kesesatan yang nyata, bersamanya aku bertualang melawan larangan Tuhan.
Kesombongan dan keangkuhan semakin nyata berwujud, dalam semak belukar dan barisan duri aku dan dirinya bersembunyi menghindar dari mata-mata manusia yang lebih tajam dan menakutkan dari mata Tuhan yang jelas-jelas mampu melihatku dimanapun aku.
Dan pagi ini saat semua sesal menyatu dan memberikan pengulangan ingatan dari setiap tragedi, ada kebahagiaan yang membuatku turut bahagia, kebahagiaan yang menjadikan hampa, kebahagiaan yang menutup dan mengoyak luka, kebahagiaan yang menjadikan tawa dan tanya, kebahagiaan yang bukan milikku dan harus kutelan dengan atau tanpa kepercayaan.
Ini adalah akhir dari perjalanan penentangganku terhadap takdir, dan harus terus berlaku untukku, sedang bagi dia yang dulu bersamaku dalam semak belukar pembangkangan telah berdamai dengan kehidupannya dan tanpa melalui kematian.
Hal yang sama darinya ingin kucicipi, setidaknya merasakan harumnya, berdamai dengan manusia, dengan alam, dan Tuhan. Namun terlau dini jika hanya akhir yang kutuliskan, tapa menarik garis kehidupan yang jauh sebelum pagi ini telah ku tulis dengan bangga dengan tinta dosa yang bagiku emas.
*****
 
Hedonisme, minggu pertama, bulan pertama dan di tahun pertama yang mewakili dari tahun kesepuluh atas nama tahun duaribu. Muara kesombongan, pembangkangan dan ateis atas nama hedonisme. Perjalanan hidupku yang biasa-biasa saja di negeri tanpa peta yang tak terdengar gema bahasa pemersatu bangsa mulai menemukan bentuk dalam upaya pemenuhan akan kebosanan diri menjadi mahluk berlabel manusia yang menghalalkan apapun atas nama kesenangan dunia.
Jalan utama yang panjang penuh rambu-rambu keselamatan tak lagi kulirik, seakan tak percaya bahwa ada tujuan akhir di persimpangan jalan. Mata hatiku buta akan penderitaan, tak lagi kupeduli akan kesengsaraan manusia, menyakiti untuk kesenangan diri, menderitakan orang lain untuk sebuah tawa dalam cerita. Aku yang biasa-biasa saja dalam kehidupan ekonomi dan status sosial dalam jiwaku bergelora teriakan kemerdekaan, bahwa hidup bukan tentang upaya mencari harta dan tahta tapi lebih dari itu adalah kesenangan.
Egoisme yang semakin memuncak menjadikan kering otak berpikir gersang akal sehat dan subur nafsu berbiak. Kodrat sebagai seorang manusia yang memiliki ketertarikan terhadap lawan jenis juga terjadi pada diriku, seorang wanita kurus, tinggi, hitam manis, cukup sederhana namun memompa darahku dua kaki lebih cepat dari biasanya, ya hanya dengan pandangan mata saja.
Sudah banyak ku biarkan berlalu wanita-wanitaku yang lain, yang datang dan kemudian dengan sendirinya pergi dengan atau tanpa sakit hati aku tak tau dan aku tak peduli, semua ku anggap sama hanya sebagai bagian dari permainan terkadang lebih tepatnya sebagai bahan taruhan menantang adrenalin.
Apa yang lebih menyenangkan pasal wanita? Selain upaya untuk memilikinya, setelah itu akan datar berjalan sama tanpa rasa dan kemudian hambar saling membuang dan seperti pengulangan hal ini terus kulakukan. Akan tetapi aku tak mengerti untuk kesekian kalinya dan kali ini tak berlaku untuk gadis kecilku, wanita hitam manis itu, aku merasa lebih memuncak untuk dapat memilikinya, bersama amunisi nafsu yang menjelma seperti bom waktu kejantananku aku pastikan bahwa tak bisa lagi untuk menunggu.
Entah dengan apa dan bagaimana aku akan dapatkan dia, atas nama kesenangan bukan cinta.
Bukan sesuatu yang sulit menahlukkan kaum hawa membuatnya bertekuk lutut dan lupa akan dirinya sendiri, hal ini berlaku untuk diriku. Musuh sekalipun, wanita yang menganggap diriku sampah, wanita yang mengusik ketenanganku, justru itu yang semakin memompa adrenalin dan kebengisanku untuk bersenang-senang dan menjadikan derita atas dirinya setelah kumiliki.
Dan hal ini dalam pasal menahlukan gadis hitam manis, rasanya sangat berlaku, tanpa cinta, tanpa kasih, tanpa sayang, tanpa perasaan apapun, hanya sebatas permainan akan sakit hati yang pernah aku derita karenanya. Jauh sebelum hari ini sorot matanya tajam menyudutkanku kedalam pojok ruangan, membungkam sapa kala lidahku bersuara, meludah dalam radius keberadaanku yang baginya sebuah kenistaan.
Binatangkah aku baginya? Setan kah? Entah apa aku di matanya, seakan tiada arti, mungkin perbedaan suku? Itukah berlaku baginya menilai keberadaanku? Yang pasti aku benar-benar merasa seperti sampah, menjadi bangkai olehnya, tujuh tahun yang lalu.
Tujuh tahun yang lalu di tahun pertama masa putih abu-abu, masa congak, labil dan menganggap hidup atas kehendak diri sendiri, bernafas dan tumbuh karena perjalanan kehidupan, masa transisi antara bodoh dan membodohkan untuk mengartikan kata dewasa dalam balutan puber, itu yang aku rasakan.
Bertemu wajah-wajah baru, bringas tatapanku laksa serigala mencari mangsa menunggu domba gembala bodoh untuk dihisap leher dan dicabik-cabik tanpa ampun. Domba itu adalah wanita-wanita sombong, yang dari tatapan matanya menyorotkan kebencian dan hinaan atas diriku.
Bidikanku meleset jauh dari sasaran, dua domba biasa kuterkam dan kulumat habis, hausku belum lagi terpuaskan, dalam masa berikutnya satu domba lagi jatuh tersungkur berlutut padaku dan aku tak kunjung puas, semua terasa sama. Buronanku masih saja tertuju pada gadis hitam manis, matanya yang terus saja mengibarkan bendera kebencian menjadikanku tak ada pilihan selain turut mengibarkan bendera kebencian dan kebencianku melebihi dari kebencian-kebencian yang ada, aku ingin bersenang-senang menjadikannya domba mainan yang akan ku siksa dalam waktu yang lama, yang kan kunikmati disetiap inci tubuhnya.
Dan bukan sekedar fisik namun hati, hati yang akan membekas sepanjang hayat yang akan terus terbawa dalam setiap detik kehidupan, itu sumpahku atas apa yang aku alami. Maka jangan izinkan aku mati terlalu dini sebelum segala kesengsaraan bermuara pada dirinya. Hedonisme, yang tumbuh subur bukan hedonisme biasa akan kesenangan duniawi, tapi kesenangan batiniah akan penderitaan.
*
Bersambung-
Tulisan ini dari kisah perjalanan seorang teman sewaktu SMA yang saya coba tulisakan
di tulis oleh: mudjirapontur
Latest posts by ryanarirap (see all)
Instagram Feed Instagram Feed Instagram Feed Instagram Feed Instagram Feed Instagram Feed

Sapa Maya

More Stories
Mungkin aku cemburu