Sebuah Usaha Menulis Cerita SMA bagian 1 – Hai

Sebuah Usaha Menulis Cerita SMA Bagian 1

Hai
(Januari 2017)

1

Hai, apa kabar. Aku rindu kalian.  Tapi kalian tak perlu rindu aku. Semoga ketika kalian membaca tulisan ini kalian sedang dalam keadaan yang sehat jasmani dan rohani, juga sehat secara keuangan sebab itu salah satu kunci dua sehat sebelumnya mudah didapat dan dihilangkan.

Sepertinya aku akan lebih nyaman dengan menyebut kalian sebagai pembaca dengan kata ganti kamu, agar lebih intim saja, biar ketika kalian membaca kalian mengerti bahwa aku sedang bercerita pada satu orang secara personal, yaitu kamu.

2

Kalaupun kamu tidak mendesak aku untuk memperkenalkan diri, dengan berat hati, aku akan coba memperkenalkan diri. Jangan anggap aku grogi, tentu saja tidak. Aku sudah sering memperkenalkan diri di depan kelas, mengingat sejak SD sampai SMP sering pindah-pindah sekolah.

Baik kita mulai. Aku bisa dipanggil Arya. Lahir di Bumi, hari ketiga bulan April tahun ketika Guns and Roses konser di Tokyo membawakan lagu knocking on heavens door. Agama; menurut ayah dan ibu aku Islam sebab mereka Islam, tapi aku boleh mencari kebenaran keyakinan bagi diriku, namun tak pernah aku lakukan. Hobi; Makan untuk hidup, hidup untuk jalan-jalan, jalan-jalan untuk senang-senang, senang-senang untuk capek, capek untuk tidur, tidur untuk bangun, bangun untuk makan, dan baca ulang kembali hobiku. Cita-cita; Presiden Amerika. Alamat; di pinggir jalan raya, rumah warna abu-abu tanpa gerbang, ada Kucing penunggu di halaman namanya Arko, warnanya Putih belang hitam. Nomor rumah 28, Jawa Tengah, Indonesia. Saat ini berdomisili sementara di Yogyakarta.

Aku rasa begitu perkenalan diriku, atas perhatiannya aku ucapkan terima kasih, semoga kita bisa menjadi teman baik. Maka izinkan aku untuk memulai menuliskan cerita yang mampu aku ingat.

3

Kamu sudah makan? Aku sudah, dan hari ini aku makan sebab aku tahu aku lapar. Bukan karena ada pesan masuk yang memerintahkan aku “jangan lupa maem ya sayang” bukan, tapi benar karena aku lapar. Aku sedang duduk di kursi kayu, dengan menghadap laptop di atas meja persegi panjang di sebuah kedai kopi. Cuaca di kota ini sedang mendung, sebentar lagi sepertinya hujan turun, tadi padahal sudah hujan, ini Januari kelima aku di kota ini.

4

Bulan lalu di Kota ini aku bertemu sahabat baikku, dulu dia satu SMA denganku tapi beda angkatan, dari pertemuan itu aku merasa banyak kehilangan peristiwa-peristiwa konyol yang nyegerin sewaktu SMA sebab aku lupa. Dari itu aku ingin menuliskan apa yang masih aku ingat, tentu saja akan banyak kekurangan di sana sini, ada banyak pengalan cerita yang tidak persis kejadian aslinya. Aku harap kamu bisa maklum. Sebab ketika SMA aku tidak membayangkan akan menuliskan itu di masa mendatang.

Dalam proses menyatukan cerita demi cerita ini aku banyak dibantu oleh Han dan Bang Syam, maka jika ada peristiwa yang kiranya itu dirasa tidak sesuai atau terlalu jauh melenceng dari keasliannya silakan protes ke dia (dia yang aku maksud Han), hubungi aku nanti aku kasih tahu alamat lengkap di mana rumahnya. Tapi jangan sekali-kali kamu coba protes ke Bang Syam, kalaupun kamu nekat aku sudah ingatkan dan aku tidak bertanggung jawab jika terjadi sesuatu denganmu. Sungguh aku serius.

5

Baik aku kira sudah cukup basa-basinya, setidaknya kamu tahu alasan aku menulis dan alasan kamu untuk membacanya. Ini bercerita tentang kerinduan, semasa SMA, di SMA yang biasa-biasa saja dengan siswa yang biasa-biasa juga, gurunya juga pada umumnya ya manusia biasa.

Kalau nanti kamu banyak menemukan kisah pribadiku, yang sangat pribadi, cerita cinta dan terasa membosankan anggap saja itu bonus, sebab di masa putih abu-abu cerita semacam itu adalah bumbu kaldu yang akan menjadikan indomie limau kuit terasa begitu nikmat sebab semangkuk berdua dengan kekasih, dan dibayarin pula.

6

Siang tadi Han meneleponku, bermula dari dia memesan produk yang aku jual online. Dia memesan celana, jangan tanya ukuran celana Han berapa, kecuali kamu mau membelikan satu untuknya. Lalu kami mulai bercerita panjang lebar, 60 menit kali dua. Han banyak menyegarkan ingatanku, aku senang. Setidaknya aku bisa tidur nyenyak tanpa harus berdoa mimpi kembali ke masa SMA dulu. Aku takut tidak naik kelas dalam mimpi, walau dalam kenyataan itu tidak aku takuti. Gampang, kalau aku tak naik kelas ya pindah sekolah. Selesai.

Bersambung dulu besok lagi. Terimakasih.

Bagian 2 di sini

Latest posts by ryanarirap (see all)
        1. Ku kira ini sudah bulan Juni. Seperti puisi Sapardi, Hujan Bulan Juni. Ku kira bisa menjadi bulan hujan untuk memulainya. Hehehe.

          Sebenarnya aku ingin Maret, tapi tidak jadi, maka April tak apalah. 😀

          1. Benar, sekarang memang bulan Juni akan tetapi hujan masih malu-malu untuk datang setiap hari… Hehehe, makanya aku menunggu hujan turun untuk membuat otakku berjalan mundur mengenang masa SMA.

            Aku ingin Agustus, tapi terlalu jauh, maka Aprilpun tidak buruk 😂😂😂😂

          2. Semoga hujan lekas turun, jangan lupa putar lagunya Ratih Purwasih – Antara Benci dan Rindu hehehe.. Jangan dipaksa mengingat ketika hujan, sebab kenangan bersama hujan dengan dia akan ikutan datang.

            April adalah keren, sebab ia sesudah Maret dan sebelum Mei. Aku percaya itu

          3. Wah… Bahkan ku tidak tahu lagu Antara Benci dan Rindu 😂😂😂 Tidak, kenangan bersama dia sudah hilang terbawa hujan tahun lalu. Dan, sepertinya tidak ada yang tersisa.

            Wkwkkwkwkk… Aku tidak punya alasan untuk tidak percaya

          4. Sepertinya terlalu jadul lagu yg kupilihkan untukmu. Maklum, itu ada di playlist Ibuku. Lagunya enak, di Youtube sepertinya tersedia.

            Apa kamu lupa, hujan tetaplah hujan dan kenangan tetap kenangan. Hujan memiliki siklus, air-menguap-hujan(air). Begitu juga kenangan yang dibawa serta hujan, akan kembali lagi. 😂

            Itu dia, 10 dari 11 orang yang aku beri pernyataan tersebut percaya. Yang satu sangat percaya. 😊

          5. Semoga saja ku tidak lupa untuk memutarnya ketika hujan turun 😂😂

            Semoga saja tidak. Kuharap kenangannya tidak kembali lagi saat hujan turun. Kalaupun dia kembali, Kuharap dalam bentuk yang lebih menyenangkan.

            Coba kamu tawarkan hal lain, mungkin peluang untuk mempercayainya akan berbeda.

          6. Semoga saja, kuota masih ada ketika hujan turun. 😅

            Baiklah, ku aminkan kenanganmu tidak lagi kembali bersama tetesan air hujan. Kalaupun dia kembali, aku berharap sama seprtimu dalam bentuk lain yang lebih menyenangkan yaitu embun di jendela setelah hujan di kala senja. 😊 (tinggal kamu lap udah hilang)

            Sudah kutawari hal lain, aku tawari es kelapa muda, dia tidak mau. Katanya puasa. Padahal aku tawarin buat buka loh. 😂 kamu mau?

          7. Semoga saja 😂😂

            Sepertinya embun setelah hujan di kala senja terlihat indah dan lebih menyejukkan, asal tidak ditatap lama dan hanya langsung di lap seperti katamu.

            Penawaran lain yang tidak bisa kujawab tidak 😂😂

          8. Aku aminkan semoga darimu. Amin.

            Ku kira, segeralah memulai. April masih lama akan kita temui. Juni sudah lama menanti, bersama hujan. Jadi Nona, mulailah kembali ke masa SMA mu itu. SMA yang tiada aku di sana. Sepertinya menyenangkan.

            Untung nggak ditawarin tirai satu atau isi kantong baju saya 😌

          9. Tunggulah. Otakku tidak mau mengeluarkan memori masa lalu jika hujan belum turun atau jika aku tidak bertemu dengan seseorang di masa lalu. Kalau kamu ada di sana, di masa SMAku, mungkin kita akan menuliskan kenangan yang sama.

            Kalau itu, mungkin aku akan mempertimbangkan penawaranmu atau menolaknya.

          10. Baiklah Nona, sepertinya kamu memang wanita yang setia untuk menunggu.

            Semoga saja hujan turun dan seseorang di masa lalu datang bersamanya, walau hanya dalam kabut tipis bias air hujan. Ku kira Nona sudah bisa mengingatnya jika demilian.

            Ku beri saran. Tolak saja Nona. Tolak.

          11. Semoga saja aku memang wanita yang setia menunggu, meskipun aku tahu aku tidak setia.

            Kombinasi yang menarik, hujan dan seseorang di masa lalu. Jangan memamggilku Nona meskipun aku menuliskan call me noona.

            Baiklah, saranmu diterima.

          12. Aku aminkan semogamu. Ku kira setia itu ada sebab ada tidak setiap. Jika kamu bisa menjaani keduanya kukira itu keren. Setiap pada hujan, tidak setiap pada kenangan.

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Instagram Feed Instagram Feed Instagram Feed Instagram Feed Instagram Feed Instagram Feed

Sapa Maya

More Stories
Setelah Mendung Tahun Lalu