Puisi: Menara

Sudah enam tahun berlalu, sejak terakhir kau mengajakku naik menara itu. Tanpa kata kata, sebab setelahnya aku baru paham arti pertemuan akan perpisahan.

Masih ku ingat. Pemandangan yang biasa kita saksikan dari atas menara. Tentang hamparan kebun jagung, tentang hamparan kacang tanah, tentang hamparan padi kering, juga perkebunan kelapa sawit atau lubang tambang yang menganga. Hari ini yang terakhir tadi yang masih tersisa untuk kita saksikan dari atas menara.

Seperti itu kah pula rasamu? Hanya tersisa lubang luka atas rindu yang tak pernah sampai? Atau cinta yang tak kenal siapa tuannya. Sebab waktu tak ingin kembali. Biar ku titip rindu di belakang rumah. Agar lekas pergi dingin berkelana. Bersama setumpuk buku agar kau terjaga di malam minggu.

Dan usah kau ladeni hasrat pembangkangan yang kian tinggi mengajakmu berlari pergi. Sebab rindu dan buku dari ku bukan untuk merayumu, hanya pertanda aku masih ada dan rasaku belum binasa.

 πŸ»πŸ‘…

Latest posts by ryanarirap (see all)
Instagram Feed Instagram Feed Instagram Feed Instagram Feed Instagram Feed Instagram Feed

Sapa Maya

More Stories
Kampung Buku Jogja, Acara Tahunan Insan Buku, Mari BerkumpulΒ Kembali cek jadwal ya!