Surat Botol untuk Kapten bagian 2 : Berbeda

Baca bagian 1 : Klik di sini

Surat Botol untuk Kapten bagian 2 : Berbeda

Sumber Gambar : mebackpacking

Hari demi hari yang biasa-biasa saja bahkan sangat biasa untuk aku yang tak biasa menikmati kebiasaan. Aku lalui bersama jenuh menuju ujung jalan di mana kita pernah melambaikan tangan perpisahan. Harusnya kau tak pergi, atau jika kau memilih pergi biarkan aku ada di belakangmu. Aku mau saja menjadi juru tulis dan pendengar yang baik dari semua ucapanmu, atau juru masak di dapur kapalmu.

Kau tau, setelah kau pergi menghilang aku mencoba mencari kapten lain yang akan menunjukan arah perjalanan kapal kehidupan ini. Angin yang salah mengantarkanku ke bibir pantai pulau yang sama dari peta berbeda, aku terdampar di selatan. Mencoba mencari kapten baru adalah hal bodoh yang aku lakukan, karena tak satupun dari mahluk yang disebut manusia bisa menerima manusia sepertiku. Sendiri adalah kata yang tepat untuk mewakili ketiadaanmu.

Pernah merasa sangat sendiri, tak ada seorangpun yang sekedar menemani walau dari kejauhan. Tanpa kawan tanpa lawan, tanpa alur cerita dan tujuan akhir dalam menjalani kehidupan. Kehilangan arah, rapuh termakan keadaan yang memaksa diri untuk menerima semuanya. Selalu berbicara tanpa pendengar, seakan suara menjadi asing dan diasingkan hanya karena berbeda? Pernah merasa begitu penat untuk mengerti apa adanya kehidupan, untuk mengerti mengapa terus dan terus diabaikan. Tak seorangpun tau betapa mereka tak mengenalku yang sesungguhnya, bahkan untuk sesederhana anak kecil yang malu-malu mencoba berkenalan, itupun tak boleh terjadi. Pernah? Aku lebih dari sekedar itu.

Apa yang salah, seumpama kita terlahir dengan beban label yang harus kita bawa tanpa perjanjian yang mampu kita ingat. Salah jika terlahir sebagai laki-laki atau terlahir menyandang predikat hawa, beragama berbeda, suku berbeda. Jika warna kulitku tak sama, rambutku tak sama, mataku tak sama, apa aku salah. Atau kita akan sepakat mengibarkan bendera perang atas proses kehidupan, akan terlalu kasar jika itu menjadi pilihan. Sayangnya sang pencipta yang mengajari lembutnya kasih sayang, tak semua ciptaan-Nya mengiyakan kasih sayang akan sesama ciptaan. Keberagaman yang menjadi bukti kebesaran Tuhan berubah menjadi alasan mengapa aku terpojokkan menjadi minoritas yang dipandang sebelah mata.

Aku bertemu banyak manusia baru di selatan, layaknya manusia pada umumnya aku terus mencoba mendekati mereka, tapi anggapan sebagai minoritas terlanjur melekat. Setelah berkali-kali gagal mencari apa yang disebut kawan, akhirnya di suatu siang aku bertemu dengan manusia sepertiku, mungkin aku lebih beruntung darinya. Dia berjenis kelamin laki-laki, kurus, rambutnya besar dan kasar seperti jarum, kulitnya putih, matanya sipit dan dia tidak bisa mengucap ā€œDā€. Aku tak pernah melihat dia sebelumnya, tiba-tiba saja dia datang dan meminta berbagi tempat duduk di taman sekolah. Jujur saja aku merasa takut, jangan-jangan hanya perangkap bahan ejekan teman sekelas. Aku berkenalan, dia sangat baik ramah dan sepertinya sudah lama memperhatikanmu, buktinya di awal pembicaraan dia selalu mendominasi pembicaraan, dia bertanya banyak hal, yang sebenarnya dia sudah tau jawabnya.

Dia jauh lebih tua dariku mungkin sepuluh tahun di atas usiaku, tapi aku tak pernah menanyakan tentang umurnya, menurutku itu takpenting, yang terpenting dia mau menjadi temanku. Aku memanggilnya Tuan D.

Terimakasih sudah sudi membaca | bersambung šŸ˜€

Instagram Feed Instagram Feed Instagram Feed Instagram Feed Instagram Feed Instagram Feed

Sapa Maya

More Stories
Rupa