Kamu – Semacam Curhat

Sumber Foto : staticflickr.com

Kamu

Pagi ini kamu mulai mengemas barang-barang di kamar kosmu. Setelah tiga puluh menit berteman dengan debu dan alunan suara sumbang dari speaker telepon genggam, kamu kembali terdiam. Masih belum merasa  yakin kamu akan pulang besok pagi. Kamu takut sangat takut, bahkan tak tahu seperti apa cara mengungkapkan ketakutan itu.

Kamu sungguh ingin tetap berada di kota ini, tak ingin lagi kembali ke pulau tanah kelahiran. Ya memang ada sesuatu yang sangat menyakitkan, yang pernah melukai di sana, tapi kamu tak mampu menolak kenyataan bahwa kedua orang tuamu sedang menunggu di beranda depan rumah. Kamu memang harus pulang saat hari raya tiba, sebab tradisi keluarga mengajarkan itu sejak kamu mendapat izin untuk merantau ke tanah orang.

Bagi lelaki pergi sepertimu, pulang adalah kata yang sangat ingin kamu ucapkan, pulang adalah kata yang sering kali harus kamu dengarkan. Tapi sejak tiga tahun yang lalu pulang adalah kata yang sama sekali tak ingin lagi kamu ucap dan dengar. Mungkin itu sebab hari ini kamu tak juga mencoba memesan tiket kendati waktu kepulangan telah digariskan oleh kedua orang tuamu.

Kamu sudah selesai mengemas barang bawaan, tapi keyakinan tak jua kunjung datang. Kamu bahkan memilih kembali merebahkan badan, berharap kembali tertidur dan lupa akan segala yang mulai masuk dalam ruang ingatanmu.

Pikiranmu kembali melayang ke tiga tahun yang lalu. Saat segala yang indah mulai merasakan sakitnya. Tahun ketika kekasihmu memutuskan untuk mencari penggantimu. Pikiranmu mulai melayang entah ke mana, kamu mulai mencari siapa yang harus bertanggung jawab atas luka hati yang begitu sakit kamu rasakan. Kamu tak tahu harus berbuat apa  tiga tahun yang lalu, dan itu awal dari segala kesalahan yang akhirnya menjadikanmu harus seorang diri membalut luka.

Kekasihmu menikah. Ya  kekasihmu menikah dan bukan kamu yang akhirnya dia pilih sebagai pendamping hidupnya. Kekasihmu menikah, setelah kamu tak mampu memberikan jawaban dari apa yang selalu dia pertanyakan setiap kalian ngobrol melalui telepon genggam. Pertanyaan-pertanyaan yang akhirnya menghantuimu, tak ada yang mampu kamu jawab.

Memang segala penyesalan yang akhirnya menuntut penjelasan dari dalam dirimu kini tak mampu lagi kamu ulang untuk memperbaiki semuanya. Bukan karena waktu telah begitu jauh meninggalkan dirimu yang masih saja memaku. Tapi memang segala yang akhirnya tercipta itu di luar dari kemampuanmu untuk sekedar memperlambat lajunya.

Kamu sering kali mencari-cari siapa yang bersalah dari perginya bagian kecil kehidupan itu. Ke mana kedua orang tuamu? Mengapa mereka memilih diam? Mengapa tak ada jawaban dari apa yang kamu lontarkan di meja makan? Mengapa kakak kandungmu itu hanya diam dan diam? Mengapa kemudian semua menjadi membisu? Mengapa  dan mengapa? Dan mengapa keluargamu tetap saja memaksa pulang, sedang mereka tahu kamu belum lagi mampu membalut luka.

Kamu tak bisa memejamkan mata. Jam dinding seperti bertugas lebih keras dari sebelumnya. Detik-detik berlalu lebih cepat, suara kendaraan lalu-lalang seakan memaksa segera pergi. Telepon genggammu berdering, satu panggilan masuk dari ibumu dan kamu memilih acuh, begitu dengan panggilan-panggilan masuk berikutnya. Sebuah pesan pendek masuk, kamu pun enggan membacanya.

Telepon genggammu kembali berbunyi, panggilan masuk dari ayah. Kamu memang tak pernah mampu menolak panggilan dari nomor bernama Ayah. Seperti biasa ayahmu selalu marah jika dia harus menelepon sebab aduan dari ibumu. Dan kali ini kamu hanya diam, saat hujan pertanyaan mengguyur, Ayahmu sepertinya mulai memahami, ayahmu pelan berkata: “Memang, ayahmu yang salah. Jika kemudian kamu tak lagi ingin kembali ke rumahmu ini. Ayah yang salah yang harus  membeli ego dari kebahagiaan anak sendiri. Kamu boleh marah, kamu boleh sekali marah. Tapi pintu rumah ini selalu menunggu kamu untuk pulang”. Kamu ingin sekali menjawab apa yang baru saja kamu dengar, tapi ayahmu memilih kamu untuk tetap diam, sambungan telepon diakhiri.

Entah mengapa kamu berteriak; “kenapa kalian tak pernah bisa merestui dia untuk menjadi istriku? kenapa? Untuk apa kalian memintaku pulang dan pulang, sedang aku harus menyaksikan seseorang yang aku cinta merajut kehidupan dengan keluarga kecilnya. Sedang tepat di depan pintu rumah kita, dia menanam segalanya?”

Kamu segera keluar kamar kos, dan merayap pelan ke seberang jalan. Kamu memesan satu tiket penerbangan, tapi entah mengapa bukan bandara di kota kedua orang tuamu yang menjadi tujuan. Sepertinya kamu memang sudah yakin dengan keputusan yang kedua. Setelah malam tadi sepakat menjalani pilihan yang pertama. Kamu akan tetap tinggal di kota ini, akan tetap berada di kota ini, jika pun harus pulang tak akan memilih pulaumu sebagai alamat kepulangan.

Dan akhirnya kau memilih pergi, ya pergi ke kota di mana kamu tak pernah ingin mengunjunginya, tapi kamu percaya ada seseorang yang begitu lama telah menunggumu di sana. Ya seseorang yang selalu ada ketika kamu terluka. Kamu tak ingin mengulang sakit-sakit itu lagi. Kamu masih begitu rapuh untuk menelanjangi mimpi yang tak sempat kamu beli. Kamu ya kamu, kamu itu aku.


mudjirapontur
Anak Ibu yang malas minum susu. Petani dan penikmat kopi, kadang nulis puisi.


Instagram Feed Instagram Feed Instagram Feed Instagram Feed Instagram Feed Instagram Feed

Sapa Maya

More Stories
Aku tidak melakukan apa-apa