Sahabat Pena Maya

Sumber Gambar : sonofmountmalang.files.wordpress.com

Kita memang sudah lama tidak bertemu. Walau arti pertemuan bagi kita adalah sebuah mimpi. Sebab kita memang tak pernah bertemu dalam kenyataan. Jangankan bertemu berkirim surat pun aku sudah lupa caranya. Apa sebab zaman yang memberikan kita kemudahan berkomunikasi, kemudian menjadikan kita lupa cara melakukannya. Bukan kita, mungkin lebih tepatnya aku.

Sejak kau memperkenalkan kepadaku surat elektronik yang kau sebut E-mail itu, aku sepakat untuk tak lagi membeli amplop dan melupakan kebiasaan mengoleksi perangko. Kau bilang, sahabat pena berganti sahabat maya. Aku begitu rajin mendatangi warung internet untuk mendapatkan kabar darimu. Tak lama, kau memperkenalkan ku friendster, aku mengikuti saranmu untuk membuat akun agar bisa ngobrol denganmu. Itu terasa menyenangkan. Tahun berganti dan kau menghilang dari friendster, kau mengajak ku berkenalan dengan facebook,aku menurut saja asalkan aku masih bisa berkirim cerita denganmu.

Rasanya sudah lama sekali. Apa kau merasakan perubahan yang terjadi. Aku baru saja merasakannya. Tepatnya sebulan yang lalu, ketika aku membersihkan kamar, tak sengaja aku menemukan kotak tempat surat-surat dari mu dulu aku kumpulkan. Ya, aku membacanya satu persatu. Dimulai dari perkenalan kita sebagai sahabat pena. Sampai pada ketika perasaan kian menjadi namun tak pernah aku mencoba melogika apa yang kau tulis. Dan ketika aku menyadari kau telah menghilang. Tak sedikit pun meninggalkan jejak, kecuali alamat yang ada di surat-suratmu.

Aku benar-benar merindu. Aku ingin sekali mengajakmu berbicara, aku ingin mendengar suaramu. Sebab kau tak pernah mau memberi nomor telepon rumah mu, atau nomor ponsel pribadi mu. Aku ingin mencoba layanan baru facebook. Kita bisa berbicara, bahkan saling bertatap mata. Tapi kau menghilang entah ke mana. Akunmu semua membisu. Apa kau memang ingin menghilang dari ku? Apa salahku? Apa kau ingin menguji kesabaranku yang telah menahun? Apa kau pikir aku tak peduli atas dirimu?

Dan, pagi ini. Kau tahu?. Segala tanya tak jua mendapat jawabnya. Sedang yang mampu aku lakukan telah tunai kukerjakan. Mengarungi samudra, menjelajahi ganasnya jalan raya ibu kota. Menikmati setiap terik yang begitu menyiksa.

Dan kau? Kau tak jua sudi memberi kabar untukku? Nona, aku di depan rumah beralamat yang ada di amplop suratmu. Dan tak ada namamu di sana, tak ada fotomu di rumah itu.

Jogja 131014

Latest posts by ryanarirap (see all)
Instagram Feed Instagram Feed Instagram Feed Instagram Feed Instagram Feed Instagram Feed

Sapa Maya

More Stories
Puisi: jahanam