Hari ini hari buku nasional

Hari ini peringatan hari buku nasional yang ke lima belas. Harus jujur aku memulai hari ini belum membaca buku, lebih dulu aku meraih telepon genggam dan membuka sosial media. Sampai ketika aku justru memilih untuk menulis apa yang ada di dalam kepalaku di blog ini dari pada melanjutkan Novel 1984 karya George Orwell yang baru setengah aku baca.

Tiba-tiba saja aku teringat Taman Baca Mapemda, sebuah taman baca yang aku dan teman-teman coba hadirkan di tengah-tengah masyarakat desa di Wonosobo, pada tahun 2011. Mapemda hanya bertahan tiga tahun, oleh sebab kami tidak lagi mampu membayar tempat sewa. Semua buku koleksi sekitar 3000 buku kami kirimkan ke beberapa taman baca lain yang waktu itu kami cari melalui jejaring sosial Facebook.

Taman Baca Mapemda

Satu persatu kawan yang selama ini dengan senang hati menyisakan uang sakunya untuk Mapemda akhirnya Wisuda, lalu pulang ke kampung halaman ada beberapa yang mencari kerja di kota ini, Jogja. Mapemda kami sudahi, semua buku koleksi sudah mendapat tempat baru, pembaca baru dan semoga bermanfaat.

Mapemda tidak padam di kepalaku, ia terus menagih satu ruang di mana buku tertata tidak terlalu rapi pada rak-rak kayu, lalu meja dan kursi tempat membaca juga diskusi. Aku mencoba menghadirkan Mapemda kembali. Kehadirannya yang kedua jelas berbeda, ia tidak lagi sekedar menjadi wadah membaca. Aku ingin sebuah ruang di mana kita dapat membaca, bersua, diskusi dan apapun yang kita suka. Jika dulu Mapemda hadir untuk mereka usia sekolah; dari PAUD sampai SMA, dengan berbagai kegiatan yang berhubungan dengan pelajaran di sekolah. Kini Mapemda ingin hadir sebagai suatu kebebasan dalam mencerna dan mengartikan sebuah bacaan atau gagasan. Hadir untuk siapapun yang sadar bahwa tidak cukup sebuah ilmu hanya berada dalam bangku sekolah, ruang kuliah. Ia harus bebas, menyebar luas, mengalami pro dan kontra dalam realita masyarakat.

https://www.instagram.com/p/BQQSI_dlVzb/?taken-by=liberacoffee

Desember 2015. Lahirlah Libera. Semua imajinasi tentang Mapemda jilid dua itu tertuang di Libera. Aku bertemu dengan seseorang yang juga menginginkan sebuah ruang yang sama. Akhirnya kami mulai mengerjakan Libera. Garasi mobil miliknya menjadi satu-satunya tempat yang mungkin untuk menghadirkan ruang itu. Selang dua bulan semua selesai. Konsep akhirnya adalah sebuah warung kopi dengan buku sebagai menu bonus. Ya, Libera hadir di sanalah aku sekarang, sebuah ruang kecil dengan buku di rak-rak kayu, meja kayu tempat bersua, diskusi dan membaca, ada mini bar di pojokan tempat menyeduh kopi. Aku tidak tahu sampai kapan Libera akan mampu bertahan, jujur saja biaya operasional untuk warung kopi lumayan besar, kami masih sering nombok. Belum lagi jika satu, dua, tiga buku kami sadari tidak kunjung kembali entah siapa yang membawa pergi.

Oh iya, aku tidak sedang promosi. Tapi jika kalian ingin sesekali bersua, membaca dan diskusi, atau sekedar ingin minum kopi datanglah ke mari. Kopi di Libera bisa dibeli menggunakan buku, jika kalian percaya buku kalian akan selamat di warung baca kopi kecil kami. Atau jika kalian ingin menyumbangkan buku, kami terima dengan senang bukan main. Beberapa kawan juga mendirikan taman baca di rumah mereka jadi apapun bukunya kami siap mendistribusikan. Semoga.

Pada akhirnya, kembali bahwa hari ini adalah hari buku nasional. Terimakasih untuk Bapak Abdul Malik Fadjar, mantan Menteri Pendidikan Nasional yang telah mengesahkan hari buku nasional pada 2002. Juga terimakasih kepada Presiden Jokowi yang hari ini akan mencanangkan gerakan nasional Gemar Membaca dalam rangka Hari Buku Nasional 2017. Semoga terlaksana. Amin.

Sedikit oleh-oleh dari BookLovers Festival #4 tadi malam. Ya, aku kira benar bahwa hari ini seperti yang aku alami layar kecil bernama smartphone itu lebih menggoda dari lembar halaman buku. Selamat untuk kita semua.

https://www.instagram.com/p/BULkDpogpcu/?taken-by=ryanemje

Instagram Feed Instagram Feed Instagram Feed Instagram Feed Instagram Feed Instagram Feed

Sapa Maya

More Stories
Tonton "Puisi kembalilah cintaku tak pernah marah – Ryan Ari rap" di YouTube