Kami Menyesal Membaca Kisah Perjudian Anda

tulisan ini bukan resensi buku-

Baru saja mendapat telepon dari seorang kawan sewaktu SMA. Tidak ada obrolan serius, kecuali bercerita masa-masa putih abu-abu yang imut lucu, wagu, dan ngasu. Masa di mana usia emas untuk membentuk gerombolan tertentu, geng bahasa gaulnya. Selain mendirikan band, dan bercita-cita menjadi Ariel Noah.

Kami salah satu yang tidak bisa lepas untuk membentuk sebuah gerombolan. Sayangnya wajah pas-pasan, tidak memungkinkan mendirikan sebuah Band. Walaupun waktu itu ada motivasi mendirikan band dengan munculnya Kangen Band yang membawa pesan “woe, ngeband ngak sekedar jual tampang” tapi ah sudahlah. Belum rezeki.

Maka dari segala kemungkinan yang tidak mungkin untuk masuk dalam barisan arek band maka satu-satunya yang bisa menyenangkan dan menghasilkan adalah mempersatukan jiwa-jiwa kosong untuk membentuk satu lingkaran peruntungan Las Vegas rasa SMA. Ya, judi.

Kenapa kami memilih judi? Sederhana saja, siapa sih yang tidak tergoda untuk bertaruh peruntungan? Jujur saja lah ketika membeli ciki bertulis hadiah langsung di kantin sekolah kamu berharap dapat penghapus karakter kodok, atau jepitan rambut merah jambu. Itu juga terjadi pada kami dengan kesenangan dan resiko yang lebih besar.

Apa saja bisa menjadi arena dan media perjudian. Mulai dari judi bola (dengan memasang club kebanggaan masing-masing), memasukan bola basket ke dalam ring, menendang bola melewati kaki kursi, atau judi dadu berbekal peralatan di lab matematika. Dari semua jenis permainan, tentu saja judi kartu yang menjadi primadona.

Judi kartu mulai dari samgong, QQ, atau gaple menjadi permainan favorit kami, selain bisa dimainkan kapan dan di mana saja  aturan permainan ini sangat simple dan mudah dimainkan cukup modal bisa penjumlahan dan sedikit keberuntungan.

Percaya atau tidak, judi kartu menjadikan kami gemar belajar matematika. Salah satu penjudi yang kami kagumi Edward Thorp beliau adalah seorang profesor matematika.  Kami sering membayangkan dengan modal ilmu matematika kami bisa menguasai dunia.

Kegiatan yang melanggar ajaran agama serta sumpah pelajar itu sering kali tercium dan tak sedikit yang harus di sidang dan mengambil cuti sekolah barang 3 sampai 5 hari karena skorsing. Semakin hari sanksi yang diberikan pun semakin berat, salah satu dari kami harus benar-benar gantung seragam Osis dan mencari sekolah lain. Satu persatu anggota gerombolan penjudi kelas kecebong itu pun tumbang. Sebagian yang masih bertahan tetap percaya bahwa kegilaan kami pada judi di sekolah tidak boleh padam.

Ketika kami lulus dan mulai tumbuh setengah dewasa pada fase berikutnya. Kami tersadar, bahwa bahaya judi nyatanya sangat berbahaya bagi kelangsungan hidup ngekos di perantauan. Tak heran jika bung Besar Presiden Soekarno di tahun 65 mengeluarkan Keppres No 113 yang menyatakan lotre buntut merusak moral bangsa dan masuk dalam kategori subversi. Eh sebentar itukan lotre buntut yak, bukan judi kartu. Dan apakah “upaya ngudeta 65” itu upaya para penjudi lotre atau penjudi kekuasaan? Bukankah di era Orde Baru, lotre buntut terus berkembang bertahan 32 tahun lagi. Lha kok malah ngomongin politik.

Kalau dipikir dua kali nyatanya kesenangan kami mempertaruhkan uang saku yang tak seberapa di belakang kelas ketika jam istirahat semasa SMA dulu, menjadikan kami manusia-manusia pemikir sampai hari ini. Setidaknya memikirkan kenapa Buku Kami Tak Ingin Tumbuh Dewasa maha karya penjudi tersohor Indonesia chapter Ngaglik itu baru terbit 2016. Kenapa,, kenapaaaaaaahh mas Puthut?

Kalau saja gerombolan kami membaca buku perjalanan hidup bergelimang Iika-liku kesenangan dimeja judi ala Puthut EA delapan tahun yang lalu, mungkin perjalanan hidup ini selepas perayaan coret-coret pilox di baju seragam akan lebih menarik lagi. Puthut memiliki slogan: kami tidak ingin dewasa. Kami pun punya slogan: kami menyesal membaca kisah perjudian anda. Sungguh. Tidak percaya? Baca saja bukunya.

 


mudji rapontur
Petani dan penikmat kopi, kadang nulis puisi.


 

Instagram Feed Instagram Feed Instagram Feed Instagram Feed Instagram Feed Instagram Feed

Sapa Maya

More Stories
Puisi: menyeduh segelas resah